Thursday, January 28, 2010

Ikan Goreng Sambel Terasi di Rotterdam

Alhamdulillah..


Segala puji bagi Tuhan penguasa sekalian alam, tak ada lagi kata yang dapat lebih merefleksikan kegembiraan saya menjamu teman SMA saya minggu lalu selain Alhamdulillah. Hari Kamis minggu lalu teman SMA saya Tb. Ary Tresna mendarat di Schiphol untuk melaksanakan pendidikan masternya di TU-Delft. Ia mendapatkan beasiswa prestigius dari konsorsium Uni Eropa - Erasmus Mundus untuk pendidikannya. Sebelumnya ia bekerja sebagai offshore structure engineer di Trondheim-Norwegia.

Ary adalah teman SMA saya yang saya kenal sekitar 10 tahun lalu. Mengingat 10 tahun lalu, ketika saya kelas 3 SMA, saya merasakan beban dan tanggung jawab yang sangat berat. Sebagai anak sulung saya merasa harus menjadi teladan bagi adik saya satu-satunya. Masalahnya ketika kelas 1 dan kelas 2, meskipun tidak tergolong anak gaul, saya adalah orang yang sama sekali tidak peduli tentang pelajaran akademis. Masa sekolah saya anggap masa bersenang2x dan mencoba hal hal menyenangkan, walhasil ketika kelas tiga hadir saya dihadapkan pada momok yang sangat menakutkan. Sebuah kata 5 huruf yaitu "UMPTN". Karena saya lebih tertarik pada ilmu pasti tentu saja impian tertinggi yang terasa fana adalah kata tiga huruf yaitu "ITB". Bila saya tertarik pada ilmu ekonomi atau hukum tentu ultimate goalnya adalah "UI" atau "UGM"



Dengan bermodal pengetahuan kelas 1 dan kelas 2 SMA yang sama sekali "blank", saya nekat mengejar ambisi fana itu. Untuk ambisi itu, sehari kira2x saya hanya tidur 3-4 jam untuk berlatih soal2x UMPTN. Bahkan ketika pelajaran sekolahpun terkadang saya duduk paling belakang untuk menghindari perhatian guru demi berlatih soal UMPTN. Setiap diadakan Try Out di kota saya, saya selalu berusaha mengikuti untuk memantau perkembangan saya dan perkiraan posisi saya di ganasnya persaingan UMPTN. Sebagai anak yang biasa-biasa dan tidak jenius (harus belajar keras untuk mengerti konsep dari suatu pelajaran) saya cukup berhasil melesatkan posisi rata2x Try-out saya dari ranking ribuan pada awal2x ikut try out hingga kira2x 150 besar pada Try Out2x bergengsi.

Masa kelas 3 SMA saya rasakan adalah salah satu masa paling berat dan paling serius dalam hidup saya. Karena sebagai anak yang sama sekali tidak mengerti pelajaran kelas 1 dan 3 (saya beranggapan saya naik kelas itu ajaib hehehe...) dengan keinginan dan kerja keras alhamdulillah Tuhan mengizinkan saya untuk meraih kesuksesan untuk lulus UMPTN dan diterima di kampus impian saya, ITB. Masa perjuangan itu sangat indah, dan Ary adalah salah satu sparing partner saya dalam masa untuk bersaing dalam belajar UMPTN. alhamdulillah Ary, Saya dan Ayu semua lulus ITB. Ary dan Ayu diterima di teknik sipil dan saya diterima di teknik mesin. Ary memang paling jenius diantara kita bertiga, saya dan Ayu cenderung hombre2x dgn intelegensia pas pasan, karenanya harus jumpalitan untuk mengerti suatu konsep.

Tak disangka, 10 tahun berikutnya, di Rotterdam di appartment sewaan saya, Tuhan mengizinkan saya untuk bertemu dengan Ary. Ia sebagai stipendiat Erasmus Mundus dan saya berjuang utk menyelesaikan S3 saya dengan beasiswa dari ERIM di Rotterdam School of Management - Universitas Erasmus Rotterdam, alhamdulillah. Memang sangat berkesan menemui seseorang dari masa lampau yang saya anggap salah satu masa keemasan saya, karena saat itu saya benar2x menyiksa diri untuk mendapatkan kesuksesan. Dan hingga kini saya tidak pernah berhasil untuk bekerja segigih dan se"romusha" kelas tiga dulu. Walaupun begitu, insyaallah moga Tuhan merahmati saya untuk selalu gigih dan tulus mengabdikan diri saya untuk kejayaan Tuhan, Bangsa, dan Keluarga. Amin ya Robal Alamin, Merdeka!!!

Tuesday, January 26, 2010

RePast Simphony - an Easy Agent Based Simulation Console

Hi..

The last 2 days I have spent my time to do a try out of an agent-based simulation development console named Repast Simphony. Its an open source package, and relatively easy to study.



I tried the first tutorial, which is the gas pressure propagation simulation, and spent just 2 days for the whole tutorial (I believe you guys can even wrap it up within a day if you are serious enough). It is really easy to learn. I do recommend for you who will be involved in doing agent based simulation, since its a Java-based simulation package (they also provide the .NET version) and it has a lot of extensions to data analytical package such as Matlab, Weka, etc. Although the simulation development is done in Eclipse - Java environment, you will need almost no programming skill in this first tutorial. So there is no reason to be affraid of trying, since its really easy..



The result that I get from this 2 days tutorial is quite impressive. As you can see from the snapshots I presented here. Repast provides graphical presentations of the model and the corresponding measuring charts for data analysis purposes.



Although its just my first hand experience in doing agent-based simulation, but I feel like I want to do it more and more.. If you want to do research using agent-based modelling, my advise is get your hands dirty as soon as possible and enjoy the fun.. I think repast is a good start to do a try out..

Sunday, January 10, 2010

Good Management Practice - Personel Evaluation

Ide dari tulisan ini lahir dari pertemuan evaluasi tahunan saya dengan atasan saya minggu lalu. Sebelumnya saya bekerja di sebuah perusahaan automotif yang ketika itu sedang jaya-jayanya, General Motors Europe. Namun disana saya tidak pernah dievaluasi dalam format seformal ini, wajar, mungkin karena ketika itu saya hanya seorang mahasiswa magang yang bekerja sebagai database programmer dan mengerjakan simulasi kecil yang berkaitan dengan evaluasi kebijakan transportasi perusahaan. Walaupun begitu, alhamdulillah saya ditempatkan di kantor pusat (Ruesselsheim Jerman), dimana atasan saya langsung adalah seorang manager, dan satu tingkat diatasnya adalah direktur dari supply chain management utk seluruh suku cadang GME. Logikanya, direktur tidak memiliki waktu 15 menit utk mengevaluasi mahasiswa bawahan managernya, dan memang ya saya tidak pernah dievaluasi langsung oleh direktur saya.

Kini posisi saya pun tidak banyak berubah, hanya seorang kroco, peneliti s3 junior. Saya memiliki satu orang supervisor bergelar doctor dan satu orang supervisor professor senior. Hal yang berbeda dalam tempat kerja kali ini (RSM - Universitas Erasmus Rotterdam) adalah cara department mengevaluasi pekerjanya. Untuk pekerja yang relatif kecil seperti saya, saya dievaluasi langsung oleh kepala departemen (yang jauh lebih senior dari professor senior saya), dan bulan depan direktur badan riset tempat saya bekerja (ERIM) (moga lancar amin.. hfiuhh stressig).



Dalam evaluasi tahunan itu, saya diharuskan menyiapkan dokumen mengenai pencapaian yang telah saya raih selama tahun evaluasi. Dalam dokumen itu saya tulis dengan rinci semua pekerjaan yang telah saya lakukan beserta daftar deliverables konkrit yang telah saya hasilkan (misal, mengajar, tulisan ilmiah, networking, keaktifan dalam grup-grup riset kampus). Selain itu, saya juga diharuskan mempersiapkan dokumen excel yang merangkum semua pengeluaran saya yang dibebankan pada departmen (misal uang konferensi, transport, hotel, dan juga proyek kampus yang menghasilkan uang untuk departmen), dengan cara ini atasan tau sebagaimana produktif atau boros pegawainya dibandingkan performa kerja yang telah dicapai. Dokumen terakhir yang saya harus siapkan adalah target rencana tahun depan yang saya rasa berkomitmen untuk memenuhinya. Semua dokumen itu didiskusikan ketika rapat evaluasi, ditandatangani oleh pihak yang terlibat, dan dokumen2x tersebut diarsipkan dalam arsip personal pegawai sebagai bahan evaluasi tahun depan.



Cukup menakjubkan, cara pimpinan melakukan evaluasi di tempat kerja yang sekarang ini. Saya taksir minimal 3 hari penuh ia luangkan untuk bertemu dengan seluruh bawahannya secara personal (padahal bagi orang sekelas beliau menit demi menit begitu berarti). Dengan kondisi ini setiap bawahan akan merasa bahwa ia diperhatikan oleh atasan tertingginya. Ia akan merasa bahwa kerja kerasnya akan diapresiasi, dan tantangan2x kerjanya juga didengar. Dan satu lagi, pertemuan reguler tahunan ini juga memacu bawahan untuk terus meningkatkan diri di tahun berikutnya. Karena secara psikologis, bawahan sudah menentukan target yang ia inginkan, dan target itu biasanya melebihi dari pencapaian tahun sebelumnya. Hal ini menstimulasi pegawai untuk bekerja lebih baik dari tahun sebelumnya. Dan juga menstimulasi pegawai untuk bekerja lebih baik dari rekan kerjanya (dengan cara yang positif), karena ia sadar atasan melakukan asesmen pada semua pegawai, dan tentunya kita tidak mau jadi pegawai dengan performa marginal dibanding rekanan kerja kita.

Demikian blog singkat saya. Saya tau saya bukan siapa-siapa dan pengalaman saya bisa jadi hanya memenuhi inbox anda. Tapi saya berpendapat, berbagi pengalaman kecil yang berguna akan selalu lebih bermanfaat bagi orang banyak dari pelajaran yang dipendam. Okie, Nice Weekend.

Sunday, January 3, 2010

Reportase Bal Balan Brrr Rotterdam (B3R)

Assalamualaikum Wr. Wb.


Hari ini (3 Januari 2010), temen-temen Rotterdam dari Universitas Erasmus dari berbagai seperti IHS( Institute for Housing and Urban Development Studies), Erasmus MC (Medical Center), Erasmus RSM (Rotterdam School of Management), dan senior muqimin Rotterdam (Pak Syafei dan Pak Yono ISR), memberanikan diri untuk bermain sepakbola di tengah udara dingin Rotterdam (0 hingga minus 6 derajat celcius).



Lapisan bunga es tipis yang menyelimuti lapangan umum Weena, menambah seru permainan kita, dengan diselingi aksi2x sliding, entah mau tackle betulan atau terpeleset hehehe.. Ternyata banyak bibit2x muda dan bibit2x tua berbakat yang Rotterdam miliki. Kalau ada acara 17 Agustusan di Rotterdam, keliatannya kita bisa juara (ia lah orang kita doang yang main hehehe..). Okie.. moga2x blog singkat ini, bisa jadi reportase sekalian jadi undangan buat siapa aja temen2x nyang mau nimbrung main bola di kesempatan berikutnya. Insyaallah akan diumumkan lewat milis ini.


Wassalamualaikum Wr Wb.
MW

Friday, December 25, 2009

(Reminder) 26-27 Desember 2009/ 9-10 Muharram 1431 - Puasa Tasu'a & Asyura

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَّةَ

“Bahwasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam ditanya tentang puasa Asyura, maka baginda bersabda: Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. At-Tirmizi)



سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَيُّ الصَّلاَةِ اَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوْبَاتِ ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ . قِيْلَ ثُمَّ اَيُّ الصِّيَامِ اَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ ؟ قَالَ : شَهْرُ اللهِ الَّذِيْ تَدْعُوْنَهُ الْمُحَرَّمَ

“Telah ditanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Apakah solat yang paling utama selepas solat wajib? Baginda bersabda: Solat di jauh malam. Baginda ditanya lagi: Puasa apakah yang lebih utama selepas puasa Ramadan? Baginda bersabda: Puasa di bulan Allah yang kamu panggil Muharam”. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud)





اَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ ، وَاَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Seafdal-afdal puasa selepas puasa Ramadan ialah puasa di bulan Allah yang diharamkan (Muharam). Seafdal-afdal solat selepas solat fardu ialah solat malam”. (HR. Muslim)



Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّافُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al-Bukhari)


wallahu alam bishawab..

Friday, December 4, 2009

Love ...

If love does not know how to give and take without restrictions, it is not love, but a transaction that never fails to lay stress on a plus and a minus. (Emma Goldman)

Love has nothing to do with what you are expecting to get - only with what you are expecting to give - which is everything. (Katharine Hepburn)

Sunday, November 29, 2009

When I asked God for ...

“When I Asked God for Strength
He Gave Me Difficult Situations to Face

When I Asked God for Brain & Brown
He Gave Me Puzzles in Life to Solve

When I Asked God for Happiness
He Showed Me Some Unhappy People

When I Asked God for Wealth
He Showed Me How to Work Hard

When I Asked God for Favors
He Showed Me Opportunities to Work Hard

When I Asked God for Peace
He Showed Me How to Help Others”


(Swami Vivekananda...)

Demokrasi, Voting, dan Kematian Socrates..

Dalam rutinitas keseharian kita, kita menginvestasikan mayoritas dari waktu kita untuk menggeluti bidang keahlian kita. Ada diantara kita yang menggeluti bidang bisnis, perbankan, mikrobiogi, rheologi, tata kota, e-commerce, fisika kuantum dan area-area menarik yang tak terhingga jumlahnya. Tapi bila kita pikirkan kembali, bidang yang kita geluti itu bila dibandingkan dengan seluruh domain permasalahan yang ada dunia mungkin hanyalah bagaikan sebutir pasir di hamparan pantai yang indah. Dan menakjubkannya, dengan kemurahan Tuhan, dengan keahlian terbatas di domain kecil yang kita geluti, kita mampu hidup dan (mungkin) memberi kontribusi kecil setidaknya bagi hidup kita sendiri, idealnya bagi orang banyak..


Dalam bidang keahlian yang kita geluti, kita menyadari bahwa pengetahuan dan kemampuan yang kita miliki sangatlah terbatas. Dalam domain keahlian yang sama, kita sadar akan keberadaan kolega-kolega kita yang kemampuan dan kontribusinya menjadi acuan kita. Belum lagi berbicara tentang domain keahlian diluar pengetahuan kita. Disetiap domain keahlian diluar bidang yang kita geluti, pastilah terdapat “pemain-pemain” handal dibidangnya masing-masing. Dan ketika suatu bidang di”raja”i oleh seseorang yang piawai (ahli) di bidang itu, maka “pemain-pemain” yang menggeluti bidang yang sama akan memiliki rasa respek dan keseganan pada sang ahli. Hal itu timbul, bukan karena sang ahli minta untuk dihargai, tetapi karena komunitas itu sadar bahwa sang ahli telah mengukir kemampuan, reputasi, dan jasa bagi komunitas itu. Tatanan sosial ini saya sebut sistem berbasis kompetensi.

Dalam pandangan naïf saya, contoh sistem berbasis kompetensi yang berjalan relatif baik dapat kita temui pada bidang olahraga (memang ini hanyalah idealisasi, tapi saya rasa diantara semua bidang yang ada, bidang olahraga cukup representatif). Bayangkan kita sedang berada dalam kompetisi olahraga beregu. Dalam konteks ini, seorang pemain akan dihargai atas keahliannya, tanpa memandang latar belakang si pemain, kelihaiannya akan menentukan posisinya dalam tim inti. Seseorang yang “jago” akan selalu memiliki tempat spesial dalam tim, dan seseorang yang kurang piawai, mungkin harus duduk di bangku cadangan untuk beberapa waktu. Apabila si pemain yang kurang lihai ini ingin bermain dalam tim inti, maka hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah membuktikan diri dan menjadi lebih baik untuk mendapatkan posisinya di tim inti. Bisa saja pemain yang kurang lihai ini memaksakan diri, tapi secara alami, selama dia mengetahui ada koleganya yang lebih pantas untuk masuk kedalam tim inti dan dia jujur akan itu, maka ia akan tau untuk memposisikan diri. Idealnya, dia akan sadar untuk tidak membuat timnya kalah dalam kompetisi hanya karena menuruti egonya. Hierarki sosial yang ada dalam sistem olahraga ini yang menurut saya merepresentasikan sistem berbasis kompetensi. Pemain2x terbaik mendapat tempatnya di tim bukan karena minta untuk masuk dalam tim, tapi karena mereka pantas untuk bermain dalam tim. Karena tim membutuhkan kontribusi sang ahli untuk menang, dan hanya dengan memasukkan pemain2x terbaik, sebuah tim memiliki kemungkinan menang yang paling besar. Pemain2x yang belum baik mendapat tempat selanjutnya di tim bukan karena alasan lain selain dari tingkat keahlian mereka yang belum mumpuni, dan pemain-pemain ini sadar bahwa satu-satunya hal yang bisa membuat mereka masuk di dalam tim adalah dengan berusaha untuk menjadi lebih baik.


Akhir-akhir ini hembusan doktrin demokrasi semakin kuat ditiupkan. Seiring dengan ritme demokratisasi, ada kecenderungan kuat di masyarakat untuk menjadikan proses voting (pengambil keputusan berdasarkan suara mayoritas) sebagai alternatif pengambilan keputusan utama dalam segala konteks. Dipicu dari kejanggalan ini, saya coba untuk mempelajari definisi dari demokrasi. Portal ensiklopedia bebas wikipedia memaparkan:

“Even though there is no specific, universally accepted definition of 'democracy', there are two principles that any definition of democracy includes, equality and freedom.[dubious – discuss] These principles are reflected by all citizens being equal before the law, and having equal access to power. A third common principle, though less measurable, is that all citizens are promised certain legitimized freedoms and liberties, which are generally protected by a constitution.

There are several varieties of democracy, some of which provide better representation and more freedoms for their citizens than others. However, if any democracy is not carefully legislated to avoid an uneven distribution of political power with balances, such as the separation of powers, then a branch of the sistem of rule could accumulate power and become harmful to the democracy itself.

The "majority rule" is often described as a characteristic feature of democracy, but without responsible government or constitutional protections of individual liberties from democratic power it is possible for dissenting individuals to be oppressed by the "tyranny of the majority". An essential process in representative democracies is competitive elections, that are fair both substantively and procedurally. Furthermore, freedom of political expression,freedom of speech and freedom of the press are essential so that citizens are informed and able to vote in their personal interests.„


Okie.. mm.. dari kutipan diatas hal-hal positif dari sistem ini diantaranya adalah: kesamaan setiap orang dalam hukum, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, dan kebebasan untuk mengeluarkan ekspresi politis. Hal yang menarik dan menurut saya dilematis dari sistem ini, ialah fenomena majority rule dan tyranny of the majority. Proses pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak dalam semua konteks permasalahan adalah suatu hal yang diragukan manfaat sejatinya.


Menelusuri keraguan atas implementasi demokrasi yang berkaitan dengan sistem voting, saya coba untuk menelaah video dokumenter online yang bercerita tentang pemikiran filsuf terkenal yunani, Socrates. Dalam video bertajuk "Socrates on Self-Confidence - Philosophy: A Guide to Happiness" , yang dipandu filsuf ternama inggris Alain de Botton, Socrates menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk menjadi pengekor dari pendapat/ keputusan komunal dan seringkali gagal untuk bertahan pada pendapat mereka sendiri. Menurut Socrates, hal ini mungkin terjadi karena manusia ybs tidak memiliki kepercayaan diri atas keputusannya yang telah diambilnya Ini terjadi karena manusia cenderung malas untuk melakukan eksplorasi mendalam tentang keputusan yang diambilnya. Dikarenakan minimnya eksplorasi, maka manusia memiliki kepercayaan diri yang rendah dan cenderung untuk bersandar pada pemikiran komunal ("wisdom of the crowds") yang belum lebih baik dari pemikirannya sendiri.

Sejalan dengan pemikiran Socrates kali ini, menurut saya, kualitas keputusan terbaik akan didapat melalui suatu diskusi2x intensif dan vulgar yang akan mengungkap tabir kebaikan dan keburukan dari pendapat2x yang bersilangan. Dengan semangat untuk menggapai kebenaran, (bukan mencari siapa yang benar atau salah), semua konsekuensi baik dan buruk, kekuatan dan kelemahan, dari suatu gagasan harus dijabarkan dengan lantang melalui suatu diskusi/debat sportif yang jujur. Sebagaimana yang telah dikenal masyarakat kita sejak lama, proses pengambilan keputusan berdasarkan voting hanya dapat dilakukan ketika musyawarah mufakat mencapai titik matinya. Suatu titik dimana gagasan-gagasan telah diungkap tuntas kebaikan dan keburukannya secara vulgar. Dan proses pengujian kebenaran ini adalah hal yang dilakukan dalam sidang2x akademis, misal sidang sarjana s1, s2, s3. Seseorang dengan proposal nya harus mampu mempertahankan pendapatnya/gagasannya setelah menjawab hujan pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan dengan logis dan meyakinkan. Ini mengindikasikan bahwa sebenarnya masyarakat kita memiliki tatanan sosial yang sangat unggul karena sejatinya setiap pengambilan keputusan harus merujuk pada proses pengujian kebenaran melalui penerangan gamblang dan musyawarah mufakat. Proses elisitasi kebenaran/ pengambilan keputusan terbaik melalui proses voting adalah sesuatu yang dipertanyakan. Terlebih apabila voting dilakukan secara tertutup, dimana seseorang tidak dengan "jantan" melantangkan dukungannya pada quorum, dan menurut saya disinilah awal dari "korupsi" sistem terjadi, karena sikap muka dua dimungkinkan.

Kembali pada bahasan dan pengertian kita tentang terbatasnya kemampuan seseorang dalam menguasai domain keahlian tertentu. Saya selalu yakin bahwa dalam setiap pengambilan keputusan, dalam suatu konteks, suatu komunitas pasti memiliki seseorang yang lebih ahli dalam bidang tersebut. Mengambil analogi sebuah tim olahraga, hanya dengan melibatkan orang2x yang paling ahli sebuah tim akan mencapai kejayaannya. Oleh karena itu apabila sebuah komunitas menginginkan kejayaannya, maka para ahli harus mendapatkan tempat yang spesial, karena komunitas bergantung pada para ahli untuk merajai suatu kompetisi. Ketika suatu tim, dibentuk atas azas like and dislike, bukan atas dasar asesmen kompetensi yang jujur maka alih alih merajai kompetisi bisa jadi tim tersebut akan terdegradasi. Satu hal yang perlu diingat, bahwa asesmen kompetensi hanya bisa dilakukan oleh sekelompok orang yang memang ahli di bidangnya, bukan melalui pemungutan suara seluruh stakeholder tim. Sistem pemungutan suara (voting) jelas bukanlah sistem yang didasarkan atas asesmen kompetensi objektif. Sebuah tim harus jujur pada kemampuan anggotanya, layaknya tim olahraga profesional, tanpa memandang latar belakang seorang atlit (entah seseorang berasal dari eropa, asia, afrika) selama mereka superior dalam posisinya, maka kontribusinya akan dihargai mahal dalam sebuah tim. Dan saya sangat percaya bahwa sistem berbasis kompetensi adalah sistem yang menawarkan kecenderungan sukses yang paling tinggi.


Setelah mengulas pemikiran yunani, saya akan mengambil kutipan pelajaran dari Al-Quran:
Sungguh Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. An-nisa :58)
dan Al-Hadist:
“Jika amanah disia-siakan, tunggulah saat kehancuran”. Sahabat bertanya: “Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?” Rasul menjawab: “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Sebagai tambahan dari film dokumenter yang saya kutip sebelumnya. Ternyata Socrates, sang bapak pencarian kebenaran orang-orang barat, harus menenggak racun hukuman mati yang diputuskan oleh pengadilan dari pemerintahan yang berasaskan demokrasi … Menarik..

Salam,
Meditya Wasesa

Wednesday, November 25, 2009

(Reminder) 26 November 2009/ 9 Dzulhijah 1430 - Puasa Arafah


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim)



وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ


“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)