Showing posts with label Artikel Indonesia Islam. Show all posts
Showing posts with label Artikel Indonesia Islam. Show all posts

Friday, August 10, 2012

Tentang Waktu Lailatur Qadar - Cuplikan Hadist



✔ “Carilah Lailatul Qadr itu pada malam-malam ganjil dari 10 hari. terakhir (bulan Ramadhan)”. (HR Bukhari no. 1878)


✔ ‘Aisyah menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah saw sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya”. [HR. Muslim no. 1175]

✔ Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya beberapa orang lelaki dari para sahabat Nabi s.a.w. diberitahu dalam impian mengenai tibanya lailatul qadar yaitu dalam tujuh yang terakhir -yang dimaksudkan ialah antara malam ke 22 sampai malam ke 28-. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Saya melihat impian-impianmu semua itu cocok yaitu pada tujuh yang terakhir. Maka barangsiapa hendak mencari lailatul qadar itu, hendaklah mencarinya pada tujuh yg terakhir itu juga”. (Muttafaq ‘alaih)


✔ “Lailatul Qadar itu pada malam 27 atau 29, sungguh Malaikat yg turun pd saat itu ke bumi lebih banyak dari jumlah batu kerikil.” (HR Thayalisi dlm Musnad-nya no. 2545; juga Ahmad II/519; dan Ibnu Khuzaimah dlm shahih-nya II/223)

✔ ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila Nabi saw memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’ ), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya”. [HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174.]


n/b dikutip dari halaman fb KH. Abdullah Gymnasiar.

Thursday, August 2, 2012

Tauhid, Tiada yg patut dikhawatirkan selain Dia


Sekedar berbagi sebuah renungan pribadi yang diinspirasi nasihat beberapa tutor yang saya percaya.  Beliau menerangkan bahwa ciri dari orang yang benar-benar beriman adalah kemantapan dan ketenangan hati.  Mengutip ayat suci berikut ini:

Tidak!   Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah,  dan berbuat baik,  dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan   tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Al-Baqarah 112)



Orang yang benar-benar yakin pada kekuasaan Sang Khalik jauhnya hatinya dari rasa gelisah, khawatir, dan takut dari segala apapun selain dari takut pada Yang Maha Kuasa saja.  Mengutip ayat suci yang berkaitan dengan Tauhid berikut ini:

Bukankah cukup Allah untuk melindungi hamba-hambaNya?   Mereka menakuti-nakutimu dengan sembahan yang selain Allah.   Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak seorangpun yang dapat memberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar 36) 

Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya.   Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? (QS. Az-Zumar 37) 

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah".   Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah,   jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu,   atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?.   Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku".   Kepada-Nyalah orang-orang yang bertawakkal berserah diri. (QS. Az-Zumar 38) 

Katakanlah (hai Muhammad):   "Hai kaumku!   Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja [pula],   maka kelak kamu akan mengetahui, … (QS. Az-Zumar 39) 

… siapa yang mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa oleh azab yang kekal". (QS. Az-Zumar 40) 

Sesungguhnya kami menurunkan kepadamu Al Kitab [Al Qur’an] untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk, maka [petunjuk itu] untuk dirinya sendiri,   dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat [kerugian] dirinya sendiri   dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka. (QS. Az-Zumar 41) 

Allah memegang jiwa [orang] ketika matinya dan [memegang] jiwa [orang] yang belum mati di waktu tidurnya;   maka Dia tahan jiwa [orang] yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan.   Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az-Zumar 42) 

Bahkan mereka (tetap) mengambil penolong selain Allah.   Katakanlah: "Dan apakah [kamu mengambilnya juga] meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?" (QS. Az-Zumar 43) 

Katakanlah: "Pertolongan itu hanyalah milik Allah semuanya.   Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi.   Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan". (QS. Az-Zumar 44) 


Sudahkah diri ber-Tuhan hanya kepada Tuhan?  Atau adakah terselip pemrioritasan yang terkadang lebih ditinggikan (seperti karir, pendidikan, pergaulan, dll) diatas bakti tauhid.   Hanya diri sendiri yang dapat menjawabnya.  Seberapa tenang dan pasrah diri menghadapi hidup?  Seberapa berani kita menghadapi apapun karena keyakinan bahwa segala jalanan hidup (yang dianggap) baik maupun buruk hanya akan terjadi dengan seizin-Nya?  Masihkan kita lebih takut terhadap hal hal lain (seperti anggapan manusia, prospek bisnis, dll) daripada lebih takut untuk tidak konsisten dalam kokoh dalam keyakinan tauhid?   Sungguh perkara yang sangat berat untuk benar-benar dijalani, tidak seringan mewacanakan dan sekedar menulis blog ini.  

Semoga Sang Khalik tiada pernah lepas membimbing diri kita.

Segala kebenaran datang dari Dia yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Segala kesalahan bersumber dari penulis blog ini.  Wallahualam Bissawab.

Saturday, March 31, 2012

Secuil Info Tentang Aqiqah


Halo..


Apabila kita mendapat rizki dengan lahirnya si buah hati, ada baiknya untuk menyukurinya dengan mengalokasikan kelebihan rizki dengan melaksanakan ibadah sunah (muakad) yang satu ini: "aqiqah".  Berikut saya kutip dari situs rumasyo, salah satu dalil yang mendasari ibadah ini:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »


Dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, digundul rambutnya dan diberi nama." (HR. Abu Daud no. 2838, An Nasai no. 4220, Ibnu Majah nol. 3165, Ahmad 5/12. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

openclipart.org

Mengkopi pelajaran yang dibagi rumasyo, hari afdhol aqiqah (hari ketujuh) dihitung dengan cara sbb:
Jika bayi lahir pada hari senin (21/06) pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh sudah mulai dihitung per-hari senin -> sehingga aqiqah bayi tersebut afdhol dilaksanakan pada hari minggu (27/06).
Jika bayi tersebut lahir pada hari Senin (21/06) selepas maghrib, maka hitungan awalnya tidak dimulai dari hari Senin, namun dari per-selasa. Sehingga aqiqah bayi tersebut afdhol dilaksanakan pada hari senin (28/06).    

Blog pendek ini, hanya ditujukan sebagai berbagi pengingat pribadi untuk menyempurnakan rasa syukur akan kelahiran si kecil, untuk referensi yang mengupas masalah aqiqah lebih mendalam, situs rumasyo, situs amanah aqiqah, dan sumber-sumber ilmu lainnya dapat diteliti lebih lanjut untuk menyempurnakan pengetahuan dan pelaksanaan aqiqah. Wallahu alam bishawab. Selamat beraqiqah... ;)

Saturday, November 13, 2010

Bulan Dzulhijah, Hari Arafah, dan Keutamaannya

Assalamualaikum Wr. Wb.


Pengantar

Meskipun sedikit terlambat tak ada salahnya saya sampaikan ringkasan dari dokumen yang didapat melalui internet berkenaan dengan keutamaan amalan di bulan Dzulhijah dan keutamaan dari puasa Arafah. Bagi kawan-kawan yang ingin merujuk pada dokumen aslinya dapat menuju ke url berikut ini.


Keutamaan 10 Hari Awal Dzulhijah

10 hari awal di Bulan Dzulhijah adalah tenggang waktu yang mendapat tempat diutamakan untuk memperbanyak amal-amal shalih. Sejalan dengan hadist berikut:

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun."(HR Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad).

Selama masih ada sisa di Bulan Dzulhijah, masih ada kesempatan untuk menambang amal, mari.. yo mari..


Keutamaan Hari Arafah

Keutamaan Bagi Penunai Haji


Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijah, tepat satu hari sebelum hari raya Iedul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijah. Pada hari arafah ini, saudara-saudara kita yang beruntung melaksanakan ibadah haji, semoga kita juga diberi kesempatan suatu hari amiin :), akan melaksanakan wukuf di arafah. Saudara-saudara kita yang berhaji dimuliakan allah karena mereka berkorban jiwa, raga, harta, meninggalkan sanak saudara, hanya untuk meraih keridhoan Allah semata, insyaallah. Insyaallah dengan hati yang murni mereka menjadi golongan yang dibanggakan Allah dan diselamatkan dari api neraka, sejalan dengan hadist berikut ini:

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah di hari Arofah (yaitu untuk orang yang berada di Arofah). Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?" (HR. Muslim).

Semoga kita juga mendapat kesempatan berhaji kelak, amin-amin ya Rabb..


Keutamaan Bagi Orang Yang Berdoa

Hari Arafah adalah salah satu waktu yang utama untuk berdoa. Pada hari Arafah ini Doa umat mukmin dimuliakan dan mustajab. Sesuai dengan hadist berikut ini.

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.” (HR. Turmudzi).

Ayo kita sama-sama manfaatkan waktu emas ini kalau begitu.. OK lah kalau begitu :p


Keutamaan Bagi Orang Yang Berpuasa

Hari Arafah adalah hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa Puasa arafah dapat menghapus dosa-dosa setahun sebelum dan sesudah hari H, sesuai dengan paparan hadist berikut ini.

“Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim).


Penutup

Sebagaimana kawan-kawan mafhum, penulis blog juga masih pemula, namun bagaimanapun, saya kira siapapun dia, selama dia memiliki niat untuk memperbaiki diri, kita harus saling mendukung. Termasuk fenomena malu-malunya muslim kebanyakan untuk memperbaiki diri, karena merasa “kurang alim” atau takut dianggap “sok alim”, takut dibilang “munafik” ketika tergelincir, dan lain-lain. Selama niatnya tulus, insyaallah Tuhan maha bijaksana, dan toh hubungan dengan Tuhan yang berhak menilai adalah Tuhan. Jadi buat apa malu? Malu sama siapa? Sama orang atau sama Tuhan? Jadi untuk apa malu memperbaiki diri menjadi muslim yang lebih baik, kita masih muslim juga toh? Selamat memperbaiki diri, insyaallah kita saling mendukung.


Wassalamualaikum Wr. Wb.
Meditya Wasesa

nb. Dengan senang hati, tulisan dapat diteruskan dan diperbanyak tanpa seizin penulis.

Sunday, August 15, 2010

7 Langkah Mudah, Hitung Zakat Profesi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selagi bulan Ramadhan, saya ingin berbagi hasil eksplorasi internet berkenaan dengan cara penghitungan zakat profesi. Tidak serumit yang pernah dipikirkan, ternyata cara menghitungnya zakat ini sangatlah mudah. Berikut akan saya bagikan contoh perhitungan zakat profesi dalam 7 langkah mudah hitung zakat profesi.

1. Hitung Nisab.
Nisab zakat profesi yang diqiyaskan ulama dengan zakat hasil pertanian ini adalah sebesar 652,8 kg gabah atau sekitar 520 kg beras. Untuk kasus ini, taruhlah beras biasa dikonsumsi berharga 2Duit/Kg, sehingga hitungan batas nisab zakat adalah 520kg * 2Duit/Kg = 1.040Duit.

2. Hitung Pemasukan Kotor Tahunan.
Taruhlah saya seorang mahasiswa yang mendapat pemasukan dari dana beasiswa sebesar 1.000Duit/Bulan. Maka pendapatan kotor tahunan saya adalah (1.000Duit/Bulan * 12Bulan/Tahun) = 12.000Duit.

3. Bandingkan Nisab dan Pemasukan Tahunan.
Bila pemasukan pertahun jumlahnya lebih kecil dari perhitungan nisab maka saya terbebas dari kewajiban berzakat. Jika yang terjadi sebaliknya, alhamdulillah kita diberi kelimpahan rizki untuk berbagi kemurahan-Nya. Untuk kasus pada contoh ini, kita wajib membayar zakat (12.000Duit > 1.040Duit), dan akan menuju poin 4 untuk melakukan perhitungan selanjutnya.


4. Hitung Pengeluaran Primer Rutin Bulanan Untuk Satu Tahun.
Sekarang, kita akan menghitung pengeluaran rutin primer bulanan. Primer berarti mendasar untuk menunjang hidup dengan cukup. Jadi pengeluaran seperti jalan2x, nonton, beli kamera, dll, tentunya tidak termasuk dalam perhitungan ini hehehe:p. Taruhlah perbulan, wajib zakat harus keluar uang sewa rumah 200Duit, uang makan 75Duit, iuran internet 25Duit, asuransi kesehatan 50Duit, dan uang transport 50Duit. Sumasi total pengeluaran rutin bulanan pada kasus ini adalah (200Duit + 75Duit + 25Duit + 50Duit + 50Duit) = 400Duit. Pengeluaran primer tahunan pada kasus ini adalah (400Duit/Bulan * 12 Bulan/Tahun) = 4.800Duit.


5. Hitung Pengeluaran Primer Tahunan Lainnya.
Selain Pengeluaran diatas wajib zakat ternyata juga harus membayar berbagai tagihan primer lainnya sbb: iuran listrik 100Duit, iuran gas 75Duit, dan pajak kebersihan 25Duit. Jadi total pengeluaran lain-lain tahunan adalah (100Duit + 75Duit + 25Duit) = 200Duit.

6. Hitung Pemasukan Bersih Tahunan.
Pemasukan Bersih Tahunan didefinisikan sbb: "Pemasukan Bersih Tahunan" = "Pemasukan Kotor Tahunan" - ("Pengeluaran Primer Rutin Bulanan Untuk Satu Tahun" + "Pengeluaran Primer Tahunan Lainnya"). Jadi, Pemasukan Bersih Tahunan adalah [12.000Duit - (4.800Duit + 200Duit)]= 7.000Duit.

7. Hitung Zakat Profesi
Berdasarkan pendapat ulama besar Yusuf Qardawi, zakat profesi dapat dihitung dengan basis "Pemasukan Kotor Tahunan" atau "Pemasukan Bersih Tahunan". Bila kita mengambil "Pemasukan Kotor Tahunan" sebagai basis, maka besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah sbb: 12.000Duit * 2.5% = 300Duit. Bagi yang berpendapatan pas-pasan, maka zakat profesi dapat juga dihitung berdasarkan "Pemasukan Bersih Tahunan", bila kita mengambil patokan kedua ini, maka besarnya zakat yang harus dikeluarkan adalah sbb: 7.000Duit * 2.5% = 175Duit. Kedua jalan dapat ditempuh tergantung dari jalan yang dirasa mantap (hanya diri kita yang mampu menakar kemantapannya:p), yang tidak elok tentunya tidak menunaikan kewajiban sama sekali hehehe..

Okie, demikian kiranya paparan singkat dari saya. Ayo tunaikan zakat, mari berbagi dengan sesama, manfaatkan ramadhan, lipat gandakan kebajikan :). Semoga dengan berzakat kita akan meraih kebaikan hakiki, sesuai dengan firman-Nya:

[QS. Al-Baqarah 177] "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."

Semoga berguna, wallahu alam bishawab.


Wassalamualaikum Wr. Wb.
Meditya Wasesa

Monday, July 26, 2010

Makanan Baik, Makanan Halal

Assalamualaikum Wr Wb


Sebagai orang yang terus terang masih slebor soal makanan, kiranya bacaan dari kitab yang tidak diragukan lagi kebenarannya ini (QS. Al Baqarah:2) kali ini menjadi pengingat keras tentang fatalitas sikap saya pribadi yang masih sering bersikap terlalu menggampangkan soal makanan.

Manusia beriman diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan dengan kualitas yang baik:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
[2:172] Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

melanjut ayat diatas, sebenarnya kita diperkenankan untuk menikmati semua yang ada di bumi. Dan apa-apa yang dilarang karena tidak baik sebenarnya hanya sedikit bila dibanding dengan yang diperbolehkan:

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
[2:173] Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesuai dengan paparan diatas, makanan yang tidak halal hanya dapat dikonsumsi jika dan hanya jika kita dalam kondisi terpaksa. Bukan justru menginginkan atau mencari-cari. Apabila memang akses menuju makanan halal sulit didapatkan maka kita boleh mengkonsumsinya itupun dengan tidak berlebih-lebihan.


Sebagai orang yang hidup di rantau, terkadang kita harus terlibat dalam kegiatan sosialisasi dalam bentuk jamuan makan. Terkadang sikap merasa tidak enak timbul, bagaimanapun juga ada baiknya kita tetap mencari alternatif makanan-makanan yang dihalalkan, Memesan makanan laut atau vegetarian dapat menjadi alternatif yang sangat baik untuk kita. Ada baiknya untuk tidak menyembunyikan apa-apa yang tidak bisa kita makan karena ternyata konsekuensinya lumayan berat.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
[2:174] Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
[2:175] Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka

Walaupun kita masih belajar dan terus memperbaiki diri dan kadang-kadang masih suka slebor hehehe :p Setidaknya kita harus tetap jadi orang yang fair dengan tetap sportif dengan mengatakan kebaikan sebagai kebaikan dan keburukan sebagai keburukan. Jangan sampai kebelummampuan kita mengaplikasikan nilai kebenaran, menjadikan kita menyembunyikan apa-apa yang benar. Semoga renungan pribadi seorang pemula ini juga berguna bagi kawan-kawan sebagai pengingat. wallahualam bissawab.


Wassalamualaikum Wr Wb
Meditya

Friday, June 4, 2010

“Ignorance“, Kesombongan, dan Keterkutukan – 3 Fasa Metamorfosa Penghancur Kemuliaan Iblis

Tulisan dalam blog ini, adalah hasil perelungan dan interpretasi pribadi saya terhadap terjemahan dari ayat suci Al-Quran yang sempat saya baca beberapa hari lalu. Karena hanya merupakan perelungan pribadi, tentu saja hikmah yang saya petik bukanlah suatu “general truth“, karena sebagaimana prinsip universal para pencari kebenaran, “Kita boleh mengklaim diri sebagai pencari kebenaran, tapi kita tidak boleh mengklaim diri sebagai kebenaran itu sendiri, kebenaran absolut hanya dimiliki oleh Sang Maha Benar itu sendiri“. Walaupun hanya perelungan pribadi, saya rasa berdiskusi, bertukar fikiran, dan berbagi hasil eksplorasi pribadi dengan niat murni (insyaallah) untuk lebih mengenal Tuhan (bukan untuk "show off" pengetahuan atau untuk berdebat kusir) adalah hal yang baik.


Sebagai awal inspirasi penulisan blog ini, mari kita simak terlebih dahulu terjemahan dari QS Al-Baqarah ayat 30 -34.

[30] "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.""

[31] "Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!""

[32] "Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.""

[33] "Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?""

[34] "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir."


Ayat diatas menceritakan curahan hati kegelisahan malaikat yang dahulunya merupakan "mahluk emas" dari Allah swt. Malaikat mempertanyakan alasan Allah swt. untuk menciptakan mahluk baru bernama manusia itu. Ide penciptaan manusia ditentang keras oleh Malaikat yang menekankan proposisi-proposisi dari potensi destruktif manusia. Malaikat dengan keterbatasan akalnya, bersikeras bahwa penciptaan manusia hanya akan berakibat buruk.


Namun sebagaimana hakikat hasil rancangan, "Sang Perancang" adalah Tuhan yang logisnya lebih digdaya dari hasil rancangan. Sang Perancang memiliki pengetahuan yang tidak dapat dijangkau oleh kemampuan berfikir ciptaannya. Dalam kasus penciptaan manusia, Tuhan memberikan kemampuan untuk mengembangkan diri secara dinamik melalui proses pencarian ilmu. Salah satu hakikat kemuliaan manusia adalah kemampuan untuk "mengenal nama nama benda", kemampuan untuk mengembangkan diri dan melakukan eksplorasi hal-hal yang tidak diketahui bahkan oleh malaikat sekalipun. Dan karena kemampuan manusia untuk mengekstraksi ilmulah, sang malaikat pun harus bersujud dengan sportif mengakui keunggulan mahluk baru bernama manusia ini.


Kesalahan terbesar iblis ada pada ketidak sportifannya dalam mengakui keunggulan manusia. Mungkin karena merasa senior dan tercipta dari zat yang dianggap lebih baik dari manusia, iblis dengan sikap "ignorance"nya tidak mau dengan sportif mengakui keunggulan mahluk junior itu (manusia). Dan karena sikap tidak sportif dan tinggi hati dari iblis, maka Allah swt. menjadi sangat murka. Dengan sikap "ignorance" yang merujuk pada sikap tinggi hati yang tidak pada tempatnya, iblis terpaksa harus terjungkal dari tempat paling mulia menjadi mahluk yang paling dilaknat dengan jaminan memasuki tempat yang hina (neraka) secara abadi. Kesenangan sementara yang didapat Iblis adalah dengan menghasut dan menjerumuskan manusia untuk menemaninya terjerembab bersama di neraka. Iblis tidak ridho terjerembab sendiri ia selalu mencari kawan untuk dibujuknya menemani kemalangannya.



Okie.. apa pelajaran yang bisa kita petik dari eksplorasi tadi? Hal pertama yang dapat dimaknai, sebagai ciptaan dari Sang Pencipta kita harus menghindari sikap "sok tau" dan menghindari sikap "ngengkel" dari garis-garis yang telah Allah swt rancang. Kita boleh bertanya dan bersikap kritis, namun kita harus selalu ingat kodrat kita sebagai "hasil rancangan" yang bagaimanapun juga harus tetap berada pada rel yang telah dirancang Allah swt. Sepintar apapun hasil rancangan, bagaimanapun Allah memiliki dimensi pengetahuan yang jelasnya tidak tergapai oleh rasionalitas hasil rancangan.


Hal kedua yang dapat dihikmati adalah, sikap tidak sportif dan kesombongan pada status quo adalah hal utama yang menyebabkan terjungkalnya Iblis dari surga. Walaupun tau manusia lebih unggul dalam satu hal, merasa manusia diciptakan dari zat yang lebih hina, Iblis enggan menyematkan hormat. Dan karena itulah Allah swt. murka. Bagaimana dengan kita? Apabila ada junior kita yang lebih pintar dan potensial dari kita, akankan kita respek atau justru menjerumuskannya? Akankah kita terhina karena ketidak sportifitas kita atau bersikap elegan dan tetap berada di tempat mulia dengan sedikit merendahkan ego kita dan bersikap apresiatif terhadap orang yang memang lebih unggul dari kita? Ignorance (Ke "masa-bodo" an) terhadap keunggulan seseorang dan kesombongan adalah hal utama yang menggelincirkan Iblis. Dan pangkal dari masalah itu sebenarnya ada pada masalah egoisme. Semoga kita terjaga dari sikap yang demikian.


Hal terakhir yang menjadi titik tekan dari keunggulan manusia adalah "kemampuannya untuk mengenal nama nama benda". Sejalan dengan ayat yang menjamin terhormatnya kedudukan orang-orang berilmu, manusia diberi kemampuan untuk melakukan eksplorasi ilmu mandiri sehingga ia mampu dengan dinamik memperbaiki diri. Dengan ilmu itu ia dapat selalu menumbuhkembangkan peradabannya. Oleh karena itu manusia harus selalu giat mengembangkan dan melakukan eksplorasi-eksplorasi ilmu yang bermanfaat. Karena dengan pengetahuannya "mengenal nama nama benda" tersebut bahkan malaikat pun harus bersujud menghormat mahluk yang sejatinya bersal dari sari pati tanah ini.


Maafkan atas segala kesalahan dan keterbatasan dalam melakukan eksplorasi. Tulisan tidak lebih dari berbagi hasil persepsi pribadi. Segala benar datanya hanya dari Allah swt. dan segala kealfaan datangnya berasal dari keterbatasan saya sebagai manusia biasa. Wallahu Alam Bishawab.


Tulisan ini juga dapat dibaca di blog PPMR ini.

Thursday, April 1, 2010

4 Alasan Belum Diterimanya Doa

Assalamualaikum Wr. Wb.

Halo semua, udah lama ngga nge-blog mengenai agama oi hehehe.. Walaupun banyak diantara kita (saya jg :p) yang merasa masih belepotan dan jauh dari kesempurnaan soal keislaman, semoga hal itu tidak membuat kita jauh dari eksplorasi mandiri berkelanjutan tentang identitas hakiki yang paling hakiki dari diri kita sendiri, identitas kita sebagai seorang muslim/muslimah.

Alhamdulillah dengan majunya teknologi, walaupun banyak diantara kita yang tumbuh berkembang dari lingkungan urban yang disibukkan dengan pendidikan formal dimana pendidikan agama terkesampingkan, kini semua sumber dapat kita cari secara mandiri di internet.. Sekedar berbagi untuk sesama newbie (yang merasa newbie :p), kalo saya pribadi matoknya ya selama sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist2x shahih ya itu yang diutamakan dari pada lainnya. Sebagaimana kita tau, Islam bukan agama eksklusif yang ajaran atau kitabnya hanya bisa dipelajari golongan tertentu. Semua sumber ilmu terbuka untuk semua orang, tidak pandang alim atau masih pemula selama dia diberi kesadaran oleh Allah swt, ya dia bisa langsung berinteraksi dengan sumbernya langsung, Al-Quran dan Al-Hadist. Sekedar pandangan pribadi, sejauh-jauhnya kita dari kesempurnaan seorang islam ideal, kita tidak boleh enggan dan menjauhkan diri dari eksplorasi dan pembelajaran dari agama kita sendiri, identitas tak terpisahkan diri kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?



Kali ini saya hanya ingin memaparkan ulang hasil bacaan ringan dari sebuah buku saku dari buku saku berjudul Doa karya Dr. H. Miftah Faridl, seorang ulama yang cukup terkenal di Indonesia pada umumnya dan jawa barat pada khususnya. Beliau juga aktif mengajar islam di Institut Teknologi Bandung. Topik yang akan dipaparkan dari buku ini berkenaan dengan penyebab doa kita tidak diterima. Untuk kasus ideal dimana kita sudah berusaha bekerja keras disertai dengan doa yang tiada henti, terkadang tujuan yang kita ingini masih juga belum tercapai. Berdasarkan pemaparan buku yang saya baca terdapat 4 sebab utama yang mungkin menjadi jawaban dari kasus belum dijawabnya doa ini.

1. Soal Waktu

"Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah mengabulkannya, kadang dipercepat dan kadang diperlambat" [HR Ahmad & HR Hakim]

2. Permintaan Tidak Baik Bagi Pendoa

Terkadang kita menginginkan sesuatu dengan mati-matian dan yakin bahwa hal itu akan membuat kita bahagia. Dan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kemudian kita berkecil hati dan menghabiskan waktu dengan bersedih. Satu hal yang harus kita ingat, Tuhan tidak akan memberikan hal-hal yang dapat merugikan hamba kesayangannya, apalagi yang sering berdoa. Ambil contoh kasih sayang orang tua, orang tua tidak akan mengizinkan anak kecilnya yang merengek untuk bermain mengambil waktu sekolah, meskipun anaknya merasa bermain itu yang terbaik untuknya. Orang tua dalam posisi yang lebih tau dari anak kecilnya, tidak diragukan lagi kasih sayang orang tua pada anaknya, adalah logis bila orang tua ingin memberikan segala yang anaknya inginkan, namun sang orang tua juga harus berani menolak dan bersifat tegas untuk hal-hal yang dapat merusak buah hatinya meskipun anaknya mungkin akan merajuk. Kembali ke kasus doa, sikap kita sebagai orang yang dikasihi, ya tetep bersenang hati saja karena yang mengasihi masih mau membimbing kita, dan kita ngga tidak boleh hilang keyakinan terhadap Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang Maha Tahu. Berikut ayat yang menguatkan penjelasan kedua ini.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah 216]

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An Nisa 19]


3. Ujian

Sebagaimana kita tahu, kesetiaan tidak cukup hanya sebatas impian dan wacana belaka, namun keteguhan harus melewati berbagai fasa untuk membuktikan kesungguhan itikadnya. Layaknya persahabatan, ia hanya akan teruji setelah masa-masa baik dan getir terlewati dengan baik. Layaknya gelar gelar akademik yang hanya pantas disematkan setelah standar tertentu dapat dipenuhi dengan sukses, begitu juga dengan doa dan keimanan, ada kalanya Allah swt berkehendak untuk menguji kesungguhan kita dalam beritikad.


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" [QS. Al-Ankabut 2]

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." [QS. Al-Ankabut 3]

4. Ditangguhkan Sebagai Simpanan Akhirat

Muslim adalah insan yang meyakini adanya kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang kita kerjakan didunia diorientasikan sebagai bekal kita untuk menjalani hidup abadi di sana. Satu hal yang menarik, ternyata doa yang tidak dikabul kala di dunia bisa juga dikonversikan menjadi tambahan tabungan pahala kita di akhirat, sesuai dengan paparan hadist berikut ini.

“Tiada seorang muslimpun yang berdoa dengan sesuatu doa yang bukan doa menyangkut usaha memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: Segera dipenuhi-Nya doa tersebut, atau disimpan-Nya sebagai pahala akhirat, atau dihindarkan-Nya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanyabagaimana kalau kami perbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi." [HR Ahmad, HR Bazzar, HR Abu Ya’la, dan HR Hakim]



Berikut pemaparan sebab doa tidak diterima yang diinspirasi dari buku saku karangan Pak Miftah Faridl. Untuk kasus tidak ideal, Hal pertama yang sering terjadi adalah kebiasaan kita mengirit atau cenderung pelit waktu untuk berdoa. Kebiasaan buruknya adalah setelah selesai solat, kita langsung meluncur menuju ke aktifitas2x lain yang mungkin lebih menyenangkan atau mungkin juga menuju kesibukan kita, seakan-akan hasil apa yang kita kerjakan terlepas dari perkenan Tuhan. Padahal, mungkin saja ketika itu kita juga sebenarnya sedang dirundung banyak masalah. Masalahnya bagaimana Allah swt akan membantu kita dengan masalah kita, apabila curhat saja kita males. Minta saja kita terkesan sombong sama Allah swt :p, Padahal janji Allah swt sudah jelas, untuk semua permintaan kita yang baek2x insyaallah pasti dikabulkan-Nya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." [QS. Al-Baqarah 186]

Okie, berikut blog singkat dari saya semoga bermanfaat. Segala kebenaran datang hanya dari Allah swt, segala kealfaan ada pada pihak saya. Selamat Berakhir Pekan :)


Wassalamualaikum Wr Wb
Meditya Wasesa

Sunday, February 14, 2010

Ah.. Anda seorang ahli.. So What?

Assalamualaikum Wr Wb



Sebagei teknokrat/cendekia junior kadang2x kita terjebak dalam kesibukan penelitian kita demi terciptanya suatu karya yang biasanya ter"konkrit"kan dalam bentuk jurnal ilmiah.

Salah satu indikator keberhasilan ilmuwan adalah ketika ia mampu menulis karya tulis dengan "impact factor" yang besar. Parameter mudahnya adalah seberapa sering tulisan kita dikutip oleh ilmuwan lain dalam tulisan mereka..

Bagi saya pribadi hal itu relatif "vague" dan kurang kongkrit karena rantai manfaat kepada kehidupan masyarakatnya secara langsung relatif sulit dilacak..

Sebagai tantangan konkrit yang bisa kita ambil sebagai bahan perbandingan.. bandingkan apa yang sudah kita hasilkan dengan "tim" yang berhasil mengembangkan software islamic finder (http://www.islamicfinder.org/). Dengan pengembangan software tsb, tim itu setidaknya memiliki "impact factor" kongkrit dengan mempermudah seluruh umat muslim di dunia dalam menentukan arah kiblat, dan waktu shalat di seluruh dunia.



Dan saya yakin selama seluruh dunia menggunakan software tersebut, tim tersebut mendapat "share" pahala yang berkelanjutan dari umat muslim seluruh dunia.

Demikian juga dengan teknologi-teknologi yang mendahulukan "manfaat" bagi orang banyak seperti online quran reciter http://www.quranexplorer.com/Quran/Default.aspx atau katalog hadits online http://www.quranexplorer.com/Hadith/English/Index.html yang dapat dipergunakan orang seluruh penjuru dunia untuk mengkaji ilmu Tuhan.

Sebagaimana petikan hadits berikut yang sejenak mengingatkan kita akan tanggung jawab yang melekat pada kita sebagai ahli dalam bidang kita masing-masing

” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).

Jadi menurut saya walaupun Tuhan sudah menjanjikan keutamaan bagi orang2x yang memiliki ilmu yang lebih..

" Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan Orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat " (QS. Al Mujaadilah 58 : 11)



Ilmu itu memang akan menjadikannya tinggi beberapa derajat. Namun ketinggian derajatnya itu tidak otomatis membuat dia orang yang "baik". Karena orang yang baik adalah yang mampu mengkonversikan pengetahuannya menjadi secercah manfaat bagi orang banyak. Dan dalam proses konversi itu si empu ilmu pengetahuan akan mendapat pilihan remunerasi bisa dalam bentuk materiil atau bonus keridoan Tuhannya bila memang diniatkan Lillahi Ta'ala. Dan urutannya terbalik, bila Tuhan ridho maka kebutuhan hambanya akan Ia cukupi. Namun bila kebutuhan duniawi seseorang tercukupi bukan berarti ridho Tuhannya ia dapat.



Sekedar pertanyaan kepada diri pribadi yang saya bagi kepada kawan2x sesama teknokrat/cendekia junior. Okelah mungkin kita akan insyaallah menjadi seorang ahli dalam bidang kita.. insyaallah kalau Allah berkenan.. pertanyaan yang paling menampar adalah "Berapa "impact factor" kongkrit dari adanya kita dalam masyarakat?" ataukah kita akan menjadi ahli yang mampu membawa manfaat hanya pada diri kita sendiri, dan justru menggunakan ilmu untuk merusak masyarakat (dengan topeng keahlian kita) naudzubillahimindzalik.. layaknya yang tertera pada ayat berikut..

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk." (QS Al Baqarah:13-16)


Selamat bekerja keras.. Semoga kita tidak hanya menjadi ahli.. namun juga menjadi orang yang mampu memberi manfaat dengan keahlian kita.. amin.

Dan sebagaimana biasa hikmah selalu lebih mudah dikatakan daripada dilaksanakan.. oleh karenanya orang2x yang mencapai keutamaan pada akhirnya hanya sedikit.. Sekedar berbagi pemikiran dari teman anda yang masih begajulan..


Wassalamualaikum Wr Wb.
Meditya Wasesa

Friday, December 25, 2009

(Reminder) 26-27 Desember 2009/ 9-10 Muharram 1431 - Puasa Tasu'a & Asyura

اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ : يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَّةَ

“Bahwasanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam ditanya tentang puasa Asyura, maka baginda bersabda: Ia menghapuskan dosa setahun yang lalu”. (HR. At-Tirmizi)



سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَيُّ الصَّلاَةِ اَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوْبَاتِ ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ . قِيْلَ ثُمَّ اَيُّ الصِّيَامِ اَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ ؟ قَالَ : شَهْرُ اللهِ الَّذِيْ تَدْعُوْنَهُ الْمُحَرَّمَ

“Telah ditanya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam. Apakah solat yang paling utama selepas solat wajib? Baginda bersabda: Solat di jauh malam. Baginda ditanya lagi: Puasa apakah yang lebih utama selepas puasa Ramadan? Baginda bersabda: Puasa di bulan Allah yang kamu panggil Muharam”. (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud)





اَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ ، وَاَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Seafdal-afdal puasa selepas puasa Ramadan ialah puasa di bulan Allah yang diharamkan (Muharam). Seafdal-afdal solat selepas solat fardu ialah solat malam”. (HR. Muslim)



Dan dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّافُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al-Bukhari)


wallahu alam bishawab..

Wednesday, November 25, 2009

(Reminder) 26 November 2009/ 9 Dzulhijah 1430 - Puasa Arafah


صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

“Puasa Arafah (9 Dzulhijah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu. (HR. Muslim)



وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ


“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari)

Wednesday, November 18, 2009

Menyambut Dzulhijah

“Tidak ada satu amal saleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438.).


disadur dari:

http://www.taushiyah-online.com/index.php?page=taushiyah/detail_Tausyiah&idT=127&tmp=arafah


Puasa Arafah, Puasa di Bulan Dzulhijah dan Tentang Idul Adha



Tentu banyak di antara kita yang telah mengetahui bahwa di hari raya idul Adha ini, umat Islam menyembelih hewan kurbannya dalam rangka ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, sesungguhnya pada Idul Adha tidak sekedar pergi untuk shalat ‘ied, kemudian menunggu daging hasil sembelihan dan meramunya menjadi makanan yang lezat. Ada hal-hal lain yang perlu dilakukan, sehingga Idul Adha ini penuh makna dalam usaha kita meraih pahala-Nya. Semoga Idul Adha tahun ini menjadi Idul Adha yang lebih baik dengan amalan-amalan yang sesuai tuntunan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin ya mujibas saailin…

Berpuasa di Sembilan Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Mulai dari awal bulan Dzulhijjah, ternyata telah ada amalan yang disunnahkan untuk kita kerjakan. Hal ini telah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan sebagaimana terdapat dalam hadits,

أنَّ النّبيّ صلى الله عليه و سلم كان يصُوم عاشُوراءَ و تسْعاً من ذيْ الحجَّةِ و ثلاثةٍ أيّامٍ من شَهرٍ

“Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa ‘Asyuro` dan (juga berpuasa) sembilan hari di bulan Dzulhijjah serta tiga hari di setiap bulannya.” (HR. Abu Dawud: 2437, lihat Shahih Sunan Abi Dawud 2/78)

Namun, apabila amalan ini terasa berat, maka seseorang dapat mencukupkan diri dengan puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah. Puasa ini dikenal pula dengan nama puasa Arafah karena pada tanggal tersebut, orang yang sedang menjalankan haji berkumpul di Arafah untuk melakukan runtutan amalan yang wajib dikerjakan pada saat berhaji yaitu ibadah wukuf.

Walau ibadah puasa ini hukumnya sunnah (jika mengerjakan mendapat ganjaran dan jika meninggalkan tidak mendapat hukuman), namun amat disayangkan jika kita melewatkan kesempatan untuk menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun, yaitu setahun sebelumnya dan setahun sesudah puasa Arafah. Hal ini berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يٌكَفِّرُ السَّنة المَاضٍيَةَ و البَاقٍيَةَ

“(Puasa Arafah akan) menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim: 1162)

Takbir, Tahlil dan Tahmid

Amalan lainnya yang dapat dikerjakan adalah membaca takbir, tahlil dan tahmid pada sepuluh hari di awal bulan Dzulhijjah, baik di jalan-jalan, maupun di pasar-pasar.

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“…dan hendaklah kalian berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari-hari yang sudah ditentukan…” (QS. Al-Hajj [22]: 28)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengatakan bahwa yang dimaksud “..hari-hari yang sudah ditentukan…” pada ayat di atas adalah sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Dan pada ayat yang lain, Allah berfirman,

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ فَمَن تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ وَمَن تَأَخَّرَ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقَى وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“… Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al-Baqarah [2]: 203)

Yaitu pada hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 bulan Dzulhijjah.

Adapun takbir, tahlil dan tahmid, maka tidak ada lafal khusus yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, terdapat riwayat dari sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah mengucapkan:

الله أكبر الله أكبر، لا إلَهَ إلاَّ اللهُ، و اللهُ أكبر، اللهُ أكبرُ و لِلّهِ الحَمدُ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali hanya Allah semata. Dan Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji hanya bagi Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah (II/168) dengan sanad shahih)

Ibnu ‘Abbas juga pernah mengucapkan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لِلّهِ الحَمدُ الله أكبر وأجَلُّ الله أكبرُ عَلىَ ما هَدَا نا

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, segala puji hanya bagi Allah. Allah Mahabesar lagi Mahaagung. Dan Allah Mahabesar atas petunjuk yang telah diberikan kepada kita.” (HR. Ibnu Abi Syaibah (II/168) dengan sanad shahih).

Yang perlu diingat saudariku, dalam melakukan takbir, tahlil dan tahmid ini dikerjakan secara sendirian. Artinya, takbir tersebut tidak dipimpin oleh seseorang dengan maksud agar menyuarakan takbir secara serempak. Karena telah ada contoh dari sifat takbir tersebut, yaitu dilakukan secara sendirian, maka kita tidak boleh membuat sifat takbir yang baru dengan anggapan itu baik karena sebuah ibadah tidak bisa diukur dengan akal semata.

Tidak Memotong Rambut dan Kuku bagi yang Berkurban

Adapun bagi seseorang yang hendak berkurban, maka sejak masuk bulan Dzulhijjah sampai hewan kurbannya disembelih hendaknya tidak memotong rambut dan kukunya secara sengaja. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Ummu Salamah radhiallahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

من كان له ذبحٌ يذبحُهُ، فإذا أهَلّ هِلال ذِى الحجّةِ فلا يأخذنَّ من شعره و لا من أظفالره شئا حتى يٌُضَحِّيَ

“Barangsiapa mempunyai hewan sembelihan yang akan ia kurbankan, maka jika telah masuk bulan dzulhijjah hendaklah tidak mencukur rambut, atau memotong kukunya sedikitpun sampai ia menyembelih kurbannya.” (HR. Muslim)

Berkurban

Nah… tentu saja untuk ibadah yang satu ini semua orang telah mengetahuinya. Namun, bagaimana dengan hukum berkurban itu sendiri. Apakah wajib atau sunnah? Ternyata ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, pendapat yang lebih kuat sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Ali Hasan hafidzahullah dalam kitab Ahkamul ‘Aidain, bahwa hukum menyembelih binatang kurban bagi seseorang adalah wajib bagi yang mampu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberi penjelasan yang lebih rinci setelah memberikan penjelasan tentang lemahnya pendapat orang yang mengatakan bahwa hukumnya sunnah. Beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak setiap orang wajib menyembelih kurban, tetapi yang wajib adalah bagi orang yang mampu saja dan dia itulah yang hendaknya menyembelih kurban.” (Majmuu’ al Fataawaa (XXIII/162-164) dinukil oleh Syaikh ‘Ali Hasan). Salah satu dalil tentang wajibnya ibadah ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من كان له سعةُ و لم يُضَحِّ فلا يَقربنَّ مُصلا نا

“Barangsiapa memiliki keleluasaan (rezeki) lalu dia tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat sholat kita.” (HR. Ahmad (1/321), Ibnu Majah (3213), sanadnya hasan)

Tidak Makan Sebelum Shalat ‘ied


Jika sebelum shalat ‘idul fithri kita disunnahkan makan kurma sebelum shalat, maka pada hari raya ‘Idul Adh-ha, maka kita disunnahkan tidak makan hingga kembali dari tempat shalat. Sebagaimana diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu ‘anhu, dia berkata,

كان النبي صلى الله عليه و سلم لا يخرج يوم الفطر حتى يطعم و يوم النّحر لا يأكل حتى يرجع فيأكُلُ من نَسِيكَتِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat pada hari raya ‘Idul fithri sampai beliau makan terlebih dahulu dan pada hari raya ‘Idul Adhha beliau tidak makan sampai pulang, kemudian beliau makan dari daging hewan-hewan kurbannya.” (HR. Tirmidzi (542))

Mandi

Mandi mungkin menjadi aktifitas biasa yang kita lakukan sehari-hari. Akan tetapi, ketika hari raya, ternyata mandi bisa bernilai ibadah lho. Ibnu Qudamah mengatakan, “Disunnahkan untuk membersihkan diri dengan mandi pada hari raya ‘ied. Ibnu ‘Umar biasa mandi pada hari raya ‘Iedul Fithri. Hal tersebut diriwayatkan dari ‘Ali radhiallahu ‘anhu. Dan hal itu pula yang dikemukakan oleh Alqamah, ‘Urwah, ‘Atha’, an Nakha’i, asy Sya’bi, Qatadah, Abu az Zinad, Malik, asy Syafi’i dan Ibnul Mundzir.” (Al Mughni (II/370).

Pergi ke Tanah Lapang untuk Shalat ‘Ied

Hal ini dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana diriwayatkan oleh Sa’id al Khudri radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat pada hari raya ‘iedul fithri dan ‘iedul adh-ha ke tanah lapang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Padahal kita tahu dari hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صلاةٌ في مَسجدِي هَذا أَفْضَلُ مِن أَلفِ صَلاةٍ فِيما سِوَاهُ إلاَّ المَسجِدَ الحَرَام

“Sholat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih baik dari seribu kali sholat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Walaupun keutamaan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram demikian besar, namun pada saat hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melaksanakan sholat ‘ied di tanah lapang. Tentu saja teladan yang paling baik adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian beberapa amalan berhari raya ‘iedul adh ha yang bisa penulis sampaikan. Semoga di kesempatan lain, penulis dapat menjelaskan amalan-amalan yang dilakukan saat berhari raya secara lebih rinci terutama berkaitan dengan sholat ‘ied itu sendiri.

Sumber : muslimah.or.id