Thursday, April 1, 2010

4 Alasan Belum Diterimanya Doa

Assalamualaikum Wr. Wb.

Halo semua, udah lama ngga nge-blog mengenai agama oi hehehe.. Walaupun banyak diantara kita (saya jg :p) yang merasa masih belepotan dan jauh dari kesempurnaan soal keislaman, semoga hal itu tidak membuat kita jauh dari eksplorasi mandiri berkelanjutan tentang identitas hakiki yang paling hakiki dari diri kita sendiri, identitas kita sebagai seorang muslim/muslimah.

Alhamdulillah dengan majunya teknologi, walaupun banyak diantara kita yang tumbuh berkembang dari lingkungan urban yang disibukkan dengan pendidikan formal dimana pendidikan agama terkesampingkan, kini semua sumber dapat kita cari secara mandiri di internet.. Sekedar berbagi untuk sesama newbie (yang merasa newbie :p), kalo saya pribadi matoknya ya selama sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist2x shahih ya itu yang diutamakan dari pada lainnya. Sebagaimana kita tau, Islam bukan agama eksklusif yang ajaran atau kitabnya hanya bisa dipelajari golongan tertentu. Semua sumber ilmu terbuka untuk semua orang, tidak pandang alim atau masih pemula selama dia diberi kesadaran oleh Allah swt, ya dia bisa langsung berinteraksi dengan sumbernya langsung, Al-Quran dan Al-Hadist. Sekedar pandangan pribadi, sejauh-jauhnya kita dari kesempurnaan seorang islam ideal, kita tidak boleh enggan dan menjauhkan diri dari eksplorasi dan pembelajaran dari agama kita sendiri, identitas tak terpisahkan diri kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?



Kali ini saya hanya ingin memaparkan ulang hasil bacaan ringan dari sebuah buku saku dari buku saku berjudul Doa karya Dr. H. Miftah Faridl, seorang ulama yang cukup terkenal di Indonesia pada umumnya dan jawa barat pada khususnya. Beliau juga aktif mengajar islam di Institut Teknologi Bandung. Topik yang akan dipaparkan dari buku ini berkenaan dengan penyebab doa kita tidak diterima. Untuk kasus ideal dimana kita sudah berusaha bekerja keras disertai dengan doa yang tiada henti, terkadang tujuan yang kita ingini masih juga belum tercapai. Berdasarkan pemaparan buku yang saya baca terdapat 4 sebab utama yang mungkin menjadi jawaban dari kasus belum dijawabnya doa ini.

1. Soal Waktu

"Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah mengabulkannya, kadang dipercepat dan kadang diperlambat" [HR Ahmad & HR Hakim]

2. Permintaan Tidak Baik Bagi Pendoa

Terkadang kita menginginkan sesuatu dengan mati-matian dan yakin bahwa hal itu akan membuat kita bahagia. Dan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kemudian kita berkecil hati dan menghabiskan waktu dengan bersedih. Satu hal yang harus kita ingat, Tuhan tidak akan memberikan hal-hal yang dapat merugikan hamba kesayangannya, apalagi yang sering berdoa. Ambil contoh kasih sayang orang tua, orang tua tidak akan mengizinkan anak kecilnya yang merengek untuk bermain mengambil waktu sekolah, meskipun anaknya merasa bermain itu yang terbaik untuknya. Orang tua dalam posisi yang lebih tau dari anak kecilnya, tidak diragukan lagi kasih sayang orang tua pada anaknya, adalah logis bila orang tua ingin memberikan segala yang anaknya inginkan, namun sang orang tua juga harus berani menolak dan bersifat tegas untuk hal-hal yang dapat merusak buah hatinya meskipun anaknya mungkin akan merajuk. Kembali ke kasus doa, sikap kita sebagai orang yang dikasihi, ya tetep bersenang hati saja karena yang mengasihi masih mau membimbing kita, dan kita ngga tidak boleh hilang keyakinan terhadap Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang Maha Tahu. Berikut ayat yang menguatkan penjelasan kedua ini.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah 216]

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An Nisa 19]


3. Ujian

Sebagaimana kita tahu, kesetiaan tidak cukup hanya sebatas impian dan wacana belaka, namun keteguhan harus melewati berbagai fasa untuk membuktikan kesungguhan itikadnya. Layaknya persahabatan, ia hanya akan teruji setelah masa-masa baik dan getir terlewati dengan baik. Layaknya gelar gelar akademik yang hanya pantas disematkan setelah standar tertentu dapat dipenuhi dengan sukses, begitu juga dengan doa dan keimanan, ada kalanya Allah swt berkehendak untuk menguji kesungguhan kita dalam beritikad.


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" [QS. Al-Ankabut 2]

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." [QS. Al-Ankabut 3]

4. Ditangguhkan Sebagai Simpanan Akhirat

Muslim adalah insan yang meyakini adanya kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang kita kerjakan didunia diorientasikan sebagai bekal kita untuk menjalani hidup abadi di sana. Satu hal yang menarik, ternyata doa yang tidak dikabul kala di dunia bisa juga dikonversikan menjadi tambahan tabungan pahala kita di akhirat, sesuai dengan paparan hadist berikut ini.

“Tiada seorang muslimpun yang berdoa dengan sesuatu doa yang bukan doa menyangkut usaha memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: Segera dipenuhi-Nya doa tersebut, atau disimpan-Nya sebagai pahala akhirat, atau dihindarkan-Nya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanyabagaimana kalau kami perbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi." [HR Ahmad, HR Bazzar, HR Abu Ya’la, dan HR Hakim]



Berikut pemaparan sebab doa tidak diterima yang diinspirasi dari buku saku karangan Pak Miftah Faridl. Untuk kasus tidak ideal, Hal pertama yang sering terjadi adalah kebiasaan kita mengirit atau cenderung pelit waktu untuk berdoa. Kebiasaan buruknya adalah setelah selesai solat, kita langsung meluncur menuju ke aktifitas2x lain yang mungkin lebih menyenangkan atau mungkin juga menuju kesibukan kita, seakan-akan hasil apa yang kita kerjakan terlepas dari perkenan Tuhan. Padahal, mungkin saja ketika itu kita juga sebenarnya sedang dirundung banyak masalah. Masalahnya bagaimana Allah swt akan membantu kita dengan masalah kita, apabila curhat saja kita males. Minta saja kita terkesan sombong sama Allah swt :p, Padahal janji Allah swt sudah jelas, untuk semua permintaan kita yang baek2x insyaallah pasti dikabulkan-Nya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." [QS. Al-Baqarah 186]

Okie, berikut blog singkat dari saya semoga bermanfaat. Segala kebenaran datang hanya dari Allah swt, segala kealfaan ada pada pihak saya. Selamat Berakhir Pekan :)


Wassalamualaikum Wr Wb
Meditya Wasesa

3 comments:

  1. mas, saya bisa email mas kemana.. saya aby lulusan groningen.. Thanks be4. abyradityo@gmail.com

    ReplyDelete
  2. postingan yg bermanfaat. sedkit koreksi, ayat terakhir seharusnya Al-Baqarah:186, bukan Al-Mu'minun

    ReplyDelete