Saturday, November 6, 2010

Memancing Saham Krakatau di Keruhnya Debu Merapi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Seiring dengan menggeliatnya paku bumi dan meliuknya samudera yang membangunkan keprihatinan dan solidaritas saudara sebangsa akan peringatan Sang Maharaja Semesta, ditemukan “tendangan tanpa bayangan” yang dilancarkan pemerintah penohok kewaspadaan seluruh negeri. Seakan memanfaatkan perhatian seluruh negeri yang tertuju pada bencana Merapi dan Mentawai, pemerintah menghangatkan lagi program penjualan saham PT. Krakatau Steel (KS) yang sudah ditentang sejak tahunan lalu oleh segenap negeri dikarenakan irasionalitas dari aksi yang akan dilancarkan. Di kala semua perhatian tertuju pada bencana, aksi ini seakan menguji kewaspadaan kita akan rencana gila penjualan asset berharga bangsa kita.

Sebenarnya tulisan ini hanyalah sebuah ulasan ulang dari liputan berita di sebuah TV swasta yang bertajuk “Bencana Saham Krakatau Steel”. Walaupun terkesan utopis, mengingat pentingnya isu ini untuk keberlangsungan bangsa, saya rasa tak ada salahnya untuk berbagi penyadaran yang didapat selepas menonton acara tsb.


Sepagai produsen baja, KS termasuk kedalam kategori industri strategis. Baja dikenal sebagai bahan baku dari mayoritas industri-industri penting. Bila langkah privatisasi diinisiasi dan maka pengendalian komoditas baja dari tangan negara akan berangsur-angsur berpindah ke tangan swasta. Ini merupakan awal dari lepasnya kontrol harga bahan baku industri. Dengan mahalnya harga bahan baku, maka efek berantai langsungnya adalah pelemahan berbagai industri lokal. Dengan matinya industri maka masyarakat akan kehilangan pencaharian. Dengan pemberedelan industri lokal, (yang juga diserang dengan dibukanya perdagangan bebas dengan cina), maka 250 juta jiwa penduduk Indonesia akan menjadi sasaran empuk produsen global. Dan seperti yang telah diinisiasi oleh kebijakan berbau liberalisme, masyarakat kita dipaksa untuk menjadi konsumen sejati. Disedot uang dan sumber daya alamnya, dan diberedel kemampuan berproduksinya.

Dari acara tersebut di atas, saya mencatat bahwa harga penawaran inisiasi (initial public offering/IPO) per lembar nya adalah Rp.850- dimana nilai bukunya bisa mencapai Rp.1000-. Yang menarik juga dari tayangan itu, indikasi bahwa pembelian akan dikuasai oleh para pemain besar dan para politikus, sedangkan pembeli eceran akan menghadapi tantangan. Kondisi PT KS yang baik dan prospektif juga memberi tanda tanya besar akan pengambilan kebijakan yang biasa diambil apabila tidak ada alternatif lain ini. Tanpa mengupas lebih dalam, saya rasa semua orang sangat mengerti bahwa PT KS adalah asset berharga kita yang tidak akan dilepas untuk anak cucu kita. Mengutip pernyataan dari salah seorang narasumber, Dr. Rizal Ramli, kurang lebih inti yang saya tangkap sbb, Untuk pemerintahan sekarang, bila ingin menjual asset, silahkan menjual asset yang dibangun pada masa pemerintahannya sendiri, jangan menjual asset yang dibangun oleh pemerintahan sebelumnya, (red. Soekarno dan Soeharto), Bila tidak bisa membangun asset jangan menjual yang telah ada. Sedikit sinisme, indikasinya memang pemerintahan kali ini memfokuskan diri pada penggelembungan dan inefisiensi anggaran konsumsi dan tidak mampu menggenerasikan asset, hehehe… :p


Walaupun menulis tentang politik dirasakan utopis dan tanpa guna.. Untuk kasus ini harus sedikit memaksa diri untuk berunjuk rasa atas keprihatinan dari langkah pemerintah yang menyelinap di kepanikan keprihatinan bangsa dalam menghadapi teguran Tuhan. Layaknya berlayar bersama dalam perahu, bila kita menemukan aksi yang hendak membocorkan perahu dan menenggelamkan perahu yang ditumpangi bersama, siapapun dia, saudara ataupun seteru harus dihentikan. Karena kita ingin terus terus berlayar dan tak ingin tenggelam. Maaf atas segala segala kesalahan dari ulasan awam saya. Tanpa terlepas dari dukungan atas keprihatinan kita pada tanah air kita, hendaknya kewaspadaan juga tidak dilepaskan. "Stop Privatisasi Industri Strategis Bangsa."

Bagi yang tertarik untuk melnyimak ulasannya langsung, dapat melaju ke url berikut ini:
http://www.metrotvnews.com/metromain/newsprograms/2010/11/05/7385/210/Bencana-Saham-Krakatau-Steel

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Meditya Wasesa

No comments:

Post a Comment