Monday, May 10, 2010

Simon, Einstein, Galileo, dan Pencarian Tuhan.

Di tengah gonjang-ganjing dan kekisruhan yang terjadi di dunia ini, semakin sulit rasanya mencari pihak yang dapat dipercaya. Mungkin yang pandai banyak, yang pintar memainkan “image” juga banyak, namun yang terpercaya sangatlah langka. Lalu kepada siapa kita harus percaya? Sebagai insan yang terkooptasi dengan ilmu pengetahuan rasional, kita tentunya tidak lupa akan konsep "bounded rationality" yang dikenalkan oleh pemenang nobel ekonomi 1978, Herbert Simon. Pengenalan konsep yang menerangkan bahwa manusia dengan segara intelektualitasnya memiliki persepsi yang sangat terbatas akan usaha-usaha mendapatkan kebenaran secara menyeluruh. Manusia hanya dapat bereaksi terhadap indikasi-indikasi data yang tersedia disekitarnya. Berdasarkan indikasi-indikasi data itu manusia kemudian dapat menggeneralisir kesimpulan. Namun, manusia tetap terbatas pada data yang ada disekitarnya, sedangkan data yang tersedia disekitarnya belum tentu valid untuk kasus yang lebih umum. Alih-alih penggeneralisiran kesimpulan pada kasus lain dapat berakibat fatal. Sepandai-pandainya manusia, kita harus mengakui bahwa kita adalah mahluk yang terbatas (“bounded”).

Sebagai ilmuwan, teknokrat, insinyur, atau manusia-manusia yang dididik melalui pendidikan formal, kita terlatih untuk menginterpretasikan sesuatu berdasarkan hukum kausalitas. Dan tradisi keilmuan yang dianut biasanya adalah, inferensi-inferensi kausalitas itu harus dapat dijelaskan melalui penjabaran pembuktian yang masuk akal, setelah diuji melalui metode-metode pembuktian ilmiah yang baku. Segala sesuatu yang belum terjelaskan adalah ladang penelitian tambang penemuan teori-teori baru yang tiada habisnya. Namun tesisnya jelas, ketidak tahuan pada sesuatu tidak serta merta menjadikan suatu fenomena dapat di klaim sebagai tidak masuk akal. Cara pandang yang mafhum dianut dalam menghadapi ketidak tahuan adalah belum terjelaskan fenomena itu oleh kemampuan ilmu pengetahuan terkini. Mungkin satu dua abad nanti akan ada penjelasan yang memuaskan, namun harus diakui perkembangan ilmu pengetahuan pun merangkak secara inkremental dan sangat lambat.


Meneruskan tesis diatas, bagi insan yang beragama, terdapat kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib yang mengatur seluruh alam semesta ini dengan begitu teraturnya dan dengan perhitungan yang sangat teliti. Zat Ghaib itu secara pribadi saya interpretasikan sebagai kekuatan Maha-dahsyat yang tidak dapat dijelaskan dikarenakan limitasi kemampuan keilmuan rasional dan keterbatasan kita sebagai manusia. Jatuhnya sehelai rambut, bergeraknya partikel debu dalam aliran udara laminar/ turbulen, dll, bukanlah hal yang tanpa perhitungan. Semua tertata apik melalui hukum-hukum keilmuan yang sangat elegan.

Lalu pertanyaannya, Siapa yang merancang semua hukum-hukum itu? Siapa yang mengatur kebergantungan rantai aksi-reaksi tersebut? Mungkinkah semua terjadi begitu saja? Mungkinkah kesinkronan dan ke-asinkronan dari fenomena-fenomena yang terjadi didunia ini terjadi tanpa sebab? Sebagai seorang yang rasional, berpulang pada prinsip kausalitas, jelas jawabannya tidak, segalanya harus memiliki sebab, segalanya harus dirancang sedemikian rupa, dan rancangan tidak mungkin terjadi tanpa ada yang merancang. Untuk yang mengidolakan fisikawan tersohoror Albert Einstein, tentu kutipan berikut tidak akan terlupa, “At any rate, I am convinced that he (God) does not play dice” (Dalam kasus apapun, saya percaya bahwa Tuhan tidak bermain dadu (dalam merancang segala sesuatu).

Pertanyaan berikut yang sering menjebak kemudian adalah, “Mengapa sang perancang merancang dunia dengan seperti ini?“ “Mengapa tidak begini?” “Mengapa tidak begitu?” “Menurutku ini lebih baik”. “Menurutku bila dilakukan dengan cara ini maka dunia pasti akan lebih ceria, dll, dll”. Kembali ke tesis yang dimajukan sebelumnya, ketidakpahaman kita akan suatu fenomena tidak serta merta membuat hal menjadi tidak masuk akal. Tidak serta merta membuat kita dapat langsung menarik kesimpulan secara pendek. Sebagai orang rasional jawabannya adalah, semua pasti ada jawabannya. Namun kali ini, mungkin belum dapat terjelaskan namun seiring dengan perkembangan zaman dan pada saat yang tepat maka pertanyaan-pertanyaan itu pasti akan terjawab. Ketidak mampuan kita untuk menjelaskan sesuatu tidak dapat serta merta membuat kita menjadi orang yang bebal atau “ignorant”. Kita harus jujur pada diri kita sendiri, ya kita adalah manusia-manusia yang terbatas. "We are bounded rational human being."


Lalu pada siapa kita akan percaya, pada ilmu pengetahuan (“science”)? Bisa jadi. Namun teori-teori peneliti pun rentan akan pembaruan bila ditemukan pembuktian yang lebih meyakinkan. Lalu pada siapa? Well, itu adalah hal yang harus kita cari pada diri dan jiwa kita sendiri. Karena saya percaya indoktrinisasi adalah hal paling naif dalam menginternalisasi suatu keyakinan. Namun kiranya sesuatu yang konsisten prinsip-prinsipnya, sesuatu yang tidak ada lagi keraguan didalamnya, sesuatu yang dapat membuat kita menyerah kalah dan percaya pada kepercayaan (belief), adalah sesuatu yang dapat kita jadikan acuan. Dan percaya adalah hal yang paling sulit, karena kita harus menelanjangi ego kita ,mengakui kalau kita adalah insan yang terbatas, dan menyerah kalah pada sesuatu yang dipercaya dapat membawa kita kepada pengertian holistik untuk memahami dunia. Teringat kutipan terkenal dari Galileo Galilei, “I do not feel obliged to believe that the same God who has endowed us with sense, reason, and intellect has intended us to forgo their use.”

Selamat bereksplorasi, pastikan kita mendapatkan "belief" yang benar-benar dapat dipercaya. Karena keapatisan pada penciptaan, kausalitas, dan pengakuan pada keterbatasan kekekalan penjelasan ilmu pengetahuan bukanlah “default attitude“ dari seorang rasional yang jujur. Setidaknya menurut saya. Sekali lagi selamat bereksplorasi, kita boleh mencintai kebenaran, namun satu hal yang tidak boleh dilakukan adalah mengklaim bahwa diri kitalah si kebenaran itu. Selamat menjelang esok hari dengan kerja keras dan keyakinan :p.

Thursday, May 6, 2010

Waktu-Waktu "Ajib" untuk Berdoa

Hai Semua..


Kali ini saya akan berbagi tentang bacaan saya hari ini berkaitan dengan waktu-waktu yang dianggap paling ajib/mantap/afdhol untuk berdoa. Setelah ditelaah ternya tidak semua waktu afdhol untuk berdoa itu harus didapat dengan bersusah payah. Dengan kemurahan Allah swt, ternyata Allah memberi pula waktu-waktu yang relatif sangat sering kita temui namun sering kita lewatkan penggunaannya untuk berdoa. Dalam blog ini saya daftar waktu-waktu afdhol untuk berdoa berdasarkan urutan kemudahannya. Menurut saya pribadi, berdasarkan kemudahannya, waktu-waktu afdhol untuk berdoa itu dapat diurutkan sbb: berdoa di waktu lapang, di waktu sujud, selepas shalat wajib, di hari jumat, di 1/3 malam terakhir, dan di saat wuquf di hari Arafah. Setelah kita lihat, ternyata hanya dua point terakhir saja yang relatif menantang untuk diraih, sedangkan sisanya relatif mudah, dan sangat sayang untuk kita lewatkan begitu saja waktu-waktu potensial diijabahnya doa tersebut.


Sebagai referensi dukungan dari tesis yang saya sampaikan disini, berikut saya ketik ulang berbagai hadist-hadist penguat yang saya kutip dari buku “Doa” karya Prof. Dr. H. Miftah Faridl dari penerbit pustaka. Berikut daftar penunjang dari proposisi-proposisi yang di kutip dari tulisan beliau.


Waktu-waktu terbaik untuk berdoa adalah sbb:


di Waktu Lapang

Barangsiapa yang menginginkan doanya dipenuhi Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya. (HR. Tirmidzi, HR. Hakim).

Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah “Azza wa Jalla” daripada doa ketika dalam keadaan lapang. (HR. Hakim).


di Waktu Sujud

Jarak yang paling dekat antar seorang hamba dengan Tuhannya ialah ketika sujud. Maka perbanyaklah doa di waktu itu (HR. Muslim).

Tidak seorang menaruh keningnya bersujud kepada Allah dan ia berkata, "Tuhanku ampunilah dosaku (dilafazkan tiga kali), kecuali pada saat ia mengangkat kepalanya telah diampuni dosanya. (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Dan Imam Muslim serta lainnya mengeluarkan hadist dari Rabi’ah bin Ka’ab yang sempat membantu Rasulullah SAW. Ia (Rabi’ah) pernah berkata, „Aku tinggal bersama Rasulullah dan (ketika itu) ku sedang membawakan air untuk wudhu dan untuk keperluan lainnya. Rasulullah pun bersabda, “Mintalah kepadaku“., “Aku berkata, Aku mohon dapat menyertaimu di surga“. Rasulullah bersabda, “Lainnya?“. Jawabku (Rabiah), „Cukup itu saja“. Maka Rasulullah bersabda, “Bantulah dirimu dengan memperbanyak sujud“. (HR. Muslim).


Selepas Shalat Wajib

Bertanya orang kepada Rasulullah, „ Wahai Rasulullah, manakah doa yang paling didengar Allah?“. Rasulullah menjawab,“Doa di tengah malam dan doa setelah shalat wajib“. (HR. Tirmidzi)


di Hari Jumat

Bahwasanya Rasulullah SAW pernah menyebut hari Jumat, lalu bersabda, „Pada hari Jumat itu ada suatu waktu yang apabila seorang muslim berdiri shalat sambil meminta sesuatu (berdoa) kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya (apa yang dia minta), seraya Rasul mengisyaratkan dengan tangannya menyedikitkan saat itu. (Muttafaq Alaih).


di 1/3 Malam Terakhir

Rasulullah besabda: Pada tiap malam, Tuhan kita turun ke langit dunia ketika bersisa sepertiga malam yang akhir. Maka Allah berfirman:, „Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku pasti akan Kukabulkan, dan siapa yang memohon kepada-Ku pasti akan Ku beri, dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku pasti akan Ku ampuni“. (HR. Malik, HR. Bukhari, HR. Muslim, HR. Tirmidzi).

Bila telah lewat sebagian malam atau dua pertiganya, akan turun ke langit dunia Allah yang Maha Memberkati dan Maha Tinggi, lalu berfirman, “Tak ada seorang pun yang meminta pasti ia akan Ku beri, tak ada seorang pun yang berdoa pasti ia akan dikabulkan, tak ada seorang pun yang mohon ampun pasti ia akan Ku ampuni sehingga tiba waktu subuh. (HR. Bukhari, HR. Muslim).

Sedekat-dekat Allah dari hambaNya ialah di tengah malam. Maka dari itu, jika engkau mampu menjadi orang yang berdzikir padaNya pada saat itu maka kerjakanlah. (HR. Abu Daud, HR. Tirmidzi).


di saat Wuquf di hari Arafah (9 Dzulhijah)

Tiada satu haripun yang lebih afdhal di sisi Allah SWT. Selain hari Arafah, di mana pada saat itu Allah turun ke langit dunia, maka dan Ia bermegah-megahan (berbangga) dengan penduduk dunia. Kepada penduduk langit Ia berkata, “Perhatikanlah hamba-hamba-Ku itu, meraka datang dengan rambut kusut dan berdebu, berjemur di panas matahari, mereka datang dari seluruh penjuru dunia yang jauh tempatnya. Mereka mengharapkan rahmat-Ku dan mereka tidak akan melihat adzab-Ku. (HR. Abu Ya’la, Al-Bazzar, Ibn Hibban, dan Ibn Khuzaimah).


Sebagai catatan akhir, semua tulisan bersumber dari buku yang disebut sebelumnya. Saya hanya berusaha mengamplifikasikan pengetahuan dengan mengetik dan memberi pengantar kecil saja. Semua kebenaran datangnya dari Allah SWT, dan semua kesalahan dan keliruan datang murni dari penulis sendiri. "Be Happy, Be Groovy, Be a Good&Proud Moslem, you are wonderful just the way you are." Hehehe..

Okie, semoga berguna :p.


Wassalamualaikum Wr. Wb.
Meditya Wasesa

tulisan juga dapat diakses di situs PPMR berikut.

Wednesday, April 21, 2010

Ada Tiada Berada..


Sungguh telah kukubur raga..
Telah kubenamkan jiwa..
Ke ketiadaan akan arti ada..
Ke kegelapan tanpa ingin menyela..
Menyela nafas yang mengingatkan..
Akan adanya tugas yang belum tuntas..
Selain itu tiada..
Tak ada..
Hingga secercah tanpa rencana itu tersingkap..
Hingga ingin kukembali berada..
dan menyala..

Tuesday, April 20, 2010

Kutub Utara (ku)..

di sana kau berdiam..
di sini ku mendendang pelan..
di sana kau terpalu..
di sini ku tersenyum membisu..
di sana kau mengutaramu..
di sini ku menggugahkan kuncianku..
di sana kau..
di sini ku..

utaraku..
tiada lagi waktuku..
untuk bermain dan membunuh sang waktu..
satu nyataku..
untukmu diriku..
setelah Tuhan dan Merah Putihku..


aku..
kutub selatan (mu)..

Friday, April 16, 2010

Sejati..

Duhai Sang Mahadiraja..
Penguasa kalbu nan bernuansa..
Terhanyutku dalam dunia penuh rona..
Rona melantun melupa asa..
Terlupa asa penuh sedia..
Sedia terbang layaknya tiada jatuh disana..


Duhai Sang Mahadiraja..
Pedih luka tawa bahagia lalu termenung berjuta..
Tetes air mata peneguh jiwa..
Dera tanpa henti penangguh sanubari terasa biasa..
Namun hamba hanya manusia..
Kuatkanlah hamba dengan yang sejati..

Karena hanya dengan yang sejati..
Hamba ingin mati..

Information Management Top Journals List

Hi, I just want to forward my journal inventory search for those of you who also do research in the Information Management branch. Actually I just repost the journals list which is considered the top list in our school, the ERIM Journals List. Since in the web site the information management top journals list is combined with the logistics management journals list, I guess my simple work here might be useful for you. In our school, the STAR journals are considered the best ones, The P journals are the second best, and the S journals are the third best. Hope it will be useful.

The STAR Journals:

The P Journals:

The S Journals:

Friday, April 9, 2010

Untukmu..

Pertama kali..
Tak ada kesan baikku padamu..
Jaket kulit lusuhmu..
Sepatu bootmu..
Dan ribuan puntung rokokmu..
Yang kau anggap lebih penting dari uang makan siangmu..

Bertahun-tahun..
Tiada yang berubah..
Tak ada kesan baikku padamu..
Hidup ala tarzanmu..
Bau tak sedap yang kadang keluar dari mulutmu..
Rumah Kostan kita yang selalu berantakan..
Membuat kita tak pernah berhenti menertawakan diri kita..


Setelah tahun berlalu..
Tetap tiada yang berubah..
Kau adalah manusia terhancur yang penah kukenal luar dalam..
Kau adalah manusia terjujur akan dirimu sendiri..
Tanpa kosmetik.. tanpa basa basi..
Tanpa ramah tamah..
tuk sekedar tunjukan bahwa sesungguhnya kau begitu berbeda..
Kau dan semua keaslian tingkahmu..

Terimakasih tuk ajarkan kemurnian..
Terimakasih tuk buka mataku bahwa kosmetika hanya kosmetika..
Dan topeng adalah topeng..
Dan siapapun takan bertahan lama dalam memerankan kepura-puraannya..
Terimakasih tuk segalanya..
Andai aku bisa jadi manusia sevulgar dikau..
Abang-abangku yang gila.. :p

Wednesday, April 7, 2010

Renungan Indah - WS Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku..

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan..
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?


Ketika diminta kembali...
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta
Ingin lebih banyak mobil
Lebih banyak popularitas

Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup, dan matiku hanya untuk beribadah.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.


nb. disadur dari blog ini dan ini

Sunday, April 4, 2010

Interviewed by Internet Radio

Hi.. sometime ago I wrote something about the Netherland's Flower industry, which has generated an annual revenue of more than 4 billion euro a year. I wrote the article in Indonesian internet magazine called Jong Indonesia. Lately, someone who has an internet radio company was also inspired to do further exploration about this industry and contacted me for an interview as a complement for his report. There I share a bit my knowledge regarding the trading mechanism that the industry uses, which is the Dutch auction. If you like to hear the interview you can simply follow this link (in indonesian). A bit nervous though, since I am not used to do this stuff hehehe.. :p Big credit for the JI's who has connected me with the radio. Okie, have a nice weekend then:)


picturesource: kintjirangin.com

Thursday, April 1, 2010

4 Alasan Belum Diterimanya Doa

Assalamualaikum Wr. Wb.

Halo semua, udah lama ngga nge-blog mengenai agama oi hehehe.. Walaupun banyak diantara kita (saya jg :p) yang merasa masih belepotan dan jauh dari kesempurnaan soal keislaman, semoga hal itu tidak membuat kita jauh dari eksplorasi mandiri berkelanjutan tentang identitas hakiki yang paling hakiki dari diri kita sendiri, identitas kita sebagai seorang muslim/muslimah.

Alhamdulillah dengan majunya teknologi, walaupun banyak diantara kita yang tumbuh berkembang dari lingkungan urban yang disibukkan dengan pendidikan formal dimana pendidikan agama terkesampingkan, kini semua sumber dapat kita cari secara mandiri di internet.. Sekedar berbagi untuk sesama newbie (yang merasa newbie :p), kalo saya pribadi matoknya ya selama sumbernya dari Al-Quran dan Al-Hadist2x shahih ya itu yang diutamakan dari pada lainnya. Sebagaimana kita tau, Islam bukan agama eksklusif yang ajaran atau kitabnya hanya bisa dipelajari golongan tertentu. Semua sumber ilmu terbuka untuk semua orang, tidak pandang alim atau masih pemula selama dia diberi kesadaran oleh Allah swt, ya dia bisa langsung berinteraksi dengan sumbernya langsung, Al-Quran dan Al-Hadist. Sekedar pandangan pribadi, sejauh-jauhnya kita dari kesempurnaan seorang islam ideal, kita tidak boleh enggan dan menjauhkan diri dari eksplorasi dan pembelajaran dari agama kita sendiri, identitas tak terpisahkan diri kita. Kalau bukan kita sendiri, siapa lagi?



Kali ini saya hanya ingin memaparkan ulang hasil bacaan ringan dari sebuah buku saku dari buku saku berjudul Doa karya Dr. H. Miftah Faridl, seorang ulama yang cukup terkenal di Indonesia pada umumnya dan jawa barat pada khususnya. Beliau juga aktif mengajar islam di Institut Teknologi Bandung. Topik yang akan dipaparkan dari buku ini berkenaan dengan penyebab doa kita tidak diterima. Untuk kasus ideal dimana kita sudah berusaha bekerja keras disertai dengan doa yang tiada henti, terkadang tujuan yang kita ingini masih juga belum tercapai. Berdasarkan pemaparan buku yang saya baca terdapat 4 sebab utama yang mungkin menjadi jawaban dari kasus belum dijawabnya doa ini.

1. Soal Waktu

"Tidak ada seorang Muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah mengabulkannya, kadang dipercepat dan kadang diperlambat" [HR Ahmad & HR Hakim]

2. Permintaan Tidak Baik Bagi Pendoa

Terkadang kita menginginkan sesuatu dengan mati-matian dan yakin bahwa hal itu akan membuat kita bahagia. Dan ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kemudian kita berkecil hati dan menghabiskan waktu dengan bersedih. Satu hal yang harus kita ingat, Tuhan tidak akan memberikan hal-hal yang dapat merugikan hamba kesayangannya, apalagi yang sering berdoa. Ambil contoh kasih sayang orang tua, orang tua tidak akan mengizinkan anak kecilnya yang merengek untuk bermain mengambil waktu sekolah, meskipun anaknya merasa bermain itu yang terbaik untuknya. Orang tua dalam posisi yang lebih tau dari anak kecilnya, tidak diragukan lagi kasih sayang orang tua pada anaknya, adalah logis bila orang tua ingin memberikan segala yang anaknya inginkan, namun sang orang tua juga harus berani menolak dan bersifat tegas untuk hal-hal yang dapat merusak buah hatinya meskipun anaknya mungkin akan merajuk. Kembali ke kasus doa, sikap kita sebagai orang yang dikasihi, ya tetep bersenang hati saja karena yang mengasihi masih mau membimbing kita, dan kita ngga tidak boleh hilang keyakinan terhadap Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang Maha Tahu. Berikut ayat yang menguatkan penjelasan kedua ini.

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. Al-Baqarah 216]

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
"Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS. An Nisa 19]


3. Ujian

Sebagaimana kita tahu, kesetiaan tidak cukup hanya sebatas impian dan wacana belaka, namun keteguhan harus melewati berbagai fasa untuk membuktikan kesungguhan itikadnya. Layaknya persahabatan, ia hanya akan teruji setelah masa-masa baik dan getir terlewati dengan baik. Layaknya gelar gelar akademik yang hanya pantas disematkan setelah standar tertentu dapat dipenuhi dengan sukses, begitu juga dengan doa dan keimanan, ada kalanya Allah swt berkehendak untuk menguji kesungguhan kita dalam beritikad.


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" [QS. Al-Ankabut 2]

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." [QS. Al-Ankabut 3]

4. Ditangguhkan Sebagai Simpanan Akhirat

Muslim adalah insan yang meyakini adanya kehidupan akhirat. Segala sesuatu yang kita kerjakan didunia diorientasikan sebagai bekal kita untuk menjalani hidup abadi di sana. Satu hal yang menarik, ternyata doa yang tidak dikabul kala di dunia bisa juga dikonversikan menjadi tambahan tabungan pahala kita di akhirat, sesuai dengan paparan hadist berikut ini.

“Tiada seorang muslimpun yang berdoa dengan sesuatu doa yang bukan doa menyangkut usaha memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya dengan salah satu dari tiga kemungkinan: Segera dipenuhi-Nya doa tersebut, atau disimpan-Nya sebagai pahala akhirat, atau dihindarkan-Nya dia dari kecelakaan atau kejelekan yang sebanding. Mereka (para sahabat) bertanyabagaimana kalau kami perbanyak? Rasul menjawab: Allah akan memperbanyak lagi." [HR Ahmad, HR Bazzar, HR Abu Ya’la, dan HR Hakim]



Berikut pemaparan sebab doa tidak diterima yang diinspirasi dari buku saku karangan Pak Miftah Faridl. Untuk kasus tidak ideal, Hal pertama yang sering terjadi adalah kebiasaan kita mengirit atau cenderung pelit waktu untuk berdoa. Kebiasaan buruknya adalah setelah selesai solat, kita langsung meluncur menuju ke aktifitas2x lain yang mungkin lebih menyenangkan atau mungkin juga menuju kesibukan kita, seakan-akan hasil apa yang kita kerjakan terlepas dari perkenan Tuhan. Padahal, mungkin saja ketika itu kita juga sebenarnya sedang dirundung banyak masalah. Masalahnya bagaimana Allah swt akan membantu kita dengan masalah kita, apabila curhat saja kita males. Minta saja kita terkesan sombong sama Allah swt :p, Padahal janji Allah swt sudah jelas, untuk semua permintaan kita yang baek2x insyaallah pasti dikabulkan-Nya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ


"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." [QS. Al-Baqarah 186]

Okie, berikut blog singkat dari saya semoga bermanfaat. Segala kebenaran datang hanya dari Allah swt, segala kealfaan ada pada pihak saya. Selamat Berakhir Pekan :)


Wassalamualaikum Wr Wb
Meditya Wasesa