Showing posts with label Artikel Indonesia Puisi. Show all posts
Showing posts with label Artikel Indonesia Puisi. Show all posts

Friday, November 4, 2011

Ada Alasan..


Ada alasan..
Dibalik silau gemerlapan..
Ada alasan..
Dibalik tanah dimana kilau kan akhirnya tenggelam..
Ada alasan..
Mengapa Sang Kuasa tak datangi hamba-Nya secara nyata..
Ada alasan..
Mengapa hanya Sang Pembawa Pesan yang dijaga dari alpha..

Ada alasan..
Mengapa seorang bandit tidak lebih hina dari yang menyebut dirinya ulama..
Ada alasan..
Mengapa kata para pemuka terasa hampa dibanding jerit lapar nan jujur seorang gembel..
Ada alasan..
Mengapa banyak berlomba berdandan diri dengan topeng kristal kaca..
Ada alasan..
Mengapa yang tak sempat bersolek justru yang akhirnya takkan fana..

Ada alasan..
Yang tak usah kau cari kemana jawabnya..
Ada alasan..
Dimana penelanjangan nurani adalah jawabnya..
Ada alasan..
Dimana semua drama-drama peranan bandit dan pemuka hanya kan buatmu tersenyum..
Ada alasan..
Bila pada akhirnya semua manusia adalah pendrama..
Ada alasan..
Pendrama akan lelah dan membuka diri sebenar-benarnya..

Ada alasan..
Mengapa Maharaja.. menyebut perjalanan terbaik khusus pada akhirnya..
Entah peranannya dulu sebagai pahlawan, buronan, atau figuran..
Yang kan terbuka dan tinggalkan kesan pesan hakiki adalah akhir cerita..

Semoga akhirku, akhirmu..
dan akhir keturunan kita hingga kiamat nanti..
adalah mulia..

Monday, May 23, 2011

Bertanya Maharaja...

Maharaja bimbing melalui tangan ghaib-nya..
Bakti bukti setia jati diri punggawa..
Kerasnya medan laga pelalaian telik sandi tak lengahkan dia..
Gemerlap istana permata mahkota tak silaukan dia..
Bermain yakin khianat tiada terlintas..
Hidup matinya adalah Maharajanya..

Siapakah maharajamu duhai ksatria..
Jangan salah kau baktikan diri..
Jangan siakan keringat menetes bila hanya sia akhirnya..
Jangan rendahkan dirimu kecuali pada yang paling tinggi saja..
Sungguh Maharaja manapun membenci pencari muka..


Kita adalah bakti..
Bagi Maharaja kita..
Pertanyaannya..
Siapa Maharaja yang benar-benar kita agungkan..
Lidah dapat berdusta, raga dapat ditarikan..
Namun relung hati takkan pernah mendua..

Monday, May 2, 2011

Ketabahan - Buya Hamka

Wahai diriku teruslah maju..
Ditengah jalan janganlah berhenti..
Sebelum ajal janganlah mati..
Keridhaan Allah itulah tuju..

Tatkala engkau menjadi palu..
Beranilah memukul habis-habisan..
Tiba giliran jadi landasan..
Tahanlah pukulan biar berlalu..

Saturday, April 30, 2011

11:49

Senyum tersungging..
Manis menarik ujung bibir semua..
Pilu bertahun hilang seketika..
Sendu kelu dinginnya badai terlupa..

Tunduk lesu lunglai badanmu..
Awan mendung tutup sang surya..
Ceria cahaya kan redup juga..
Adakah beda bila bertanya..


Nafas lembaran roman kehidupan..
Sekali menarik.. sekali menghembus..
Sekali menerima.. sekali memberi..
Sekali bahagia.. sekali terluka..

Pada akhirnya sama saja..
Toh lembaran itu harus dilewati juga..
Entah mendung.. entah indahnya..
Penentu bahagia adalah jiwa..
Bukan cuaca diluar sana..

Terpujilah Sang Maharaja..
Yang bolak-balikkan hati pendrama..
Biar teguh pada akhirnya..

Amin..

Saturday, March 19, 2011

Humbala...

Kutub..
Jauh di ujung menyepi..
Tepi sendiri mencengkram bumi..
Dingin semilir tiada peduli..
Hanya peduli si benar peduli..
Beberapa dari berjuta, pasti..

Khatulistiwa..
Meregang senang dibasuh sang surya..
Terombang nyiur dilenakan nirwana dunia..
Hangat senyumnya menyamarkan pijakannya..
Terbius semua oleh liukannya..
Berjuta bukan beberapa, itulah dia..

Duhai sang Kutub pemaku bumi…
Terpuji engkau diujung semedi..
Berdiam dibeku dikudakan norma..
Dipuja dilupakan dielukan dicaci..
Berpaling engkau dari semua..
Nikmati cumbu rindu nyanyian langit..
Sang langit dalam relung yakinmu..

Duhai Khatulistiwa pelintang dunia..
Terpuji engkau diatas suka duka..
Tangis tawa cucu adam hawa..
Selimut hangatkan ciptakan rona..
Cepat putarmu membuat hidup mereka berlari..
Dalam cerianya rotasi bumi..
Dalam timbul tenggelamnya aji-aji..

Dinamika adalah kemenarikan..
Statika adalah kekolotan yang tak mungkin terjadi disini..
Duhai Semesta..
Semua titikmu bergerak dan slalu bergerak..
Berlari dan terus berlari tanpa mau berhenti..
Dua titik tetap diam
Sementara lainnya mengitari menyanyikan lagu humbala..
Berputar bingung pada sumbu kolot itu..
Pada petapa yang tetap diam..
Tetap dingin.. tetap tidak menarik.. tetap membosankan..
tetap terlarut pada rindunya..
Rindu yang tiba kala semua porak poranda..

Semesta berbicara..
Manusia menentukan..

Monday, March 7, 2011

Sajak Seorang Tua untuk Istrinya - WS Rendra

Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu..
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Karena soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
karena setiap orang mengalaminya.


Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samudra,
serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,
karena tugas adalah tugas.
Bukannya demi surga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Karena sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.


Kita tersenyum bukanlah karena bersandiwara.
Bukan karena senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi karena senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama, nasib, dan kehidupan.


Lihatlah
Sembilan puluh tahun penuh warna
Kenangkanlah
bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
Kita menjadi goyah dan bongkok
karena usia nampaknya lebih kuat dari kita
tapi bukan karena kita telah terkalahkan.


Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kaukenangkan encokmu
kenangkanlah pula
bahwa kita ditantang seratus dewa.

Monday, November 29, 2010

Rajawali Geni

Berkobar api..
Memantik gelora..
Diskusi-diskusi kosong..
Para pencinta utopia..
Pencumbu impian jauh dari nyata..

Berkobar geni..
Hentakkan lamunan..
Elang-elang ulung yang nyaris terlelap..
Dalam kesendirian..

Rajawali-rajawali titisan asa.
Kepakkan sayapmu janganlah ragu..
Rajawali bukanlah burung beo..
Yang kan tetap terbang dengan pandangan tajam mencengkram..
Rajawali bukanlah bebek kwek kwek..
Yang anti sembunyi diketiak oportunisme kwek kwek..


Dia yang berteriak lantang terang benderang tanpa ragu..
Dia yang bertindak apa adanya..
Dia yang tak malu menyingkap cacatnya..
Dia yang sadar penghambaannya..

Berkobar bara..
Semakin digdaya..
Kala angin bertiup coba hentikan..
Berkobar ia mengganas menerkam..

Tiada pilihan lain bagi rajawali geni..
Berpijar cahaya atau mati sekali..

Jikapun memang tiba saatnya tuk mati..
Pastikan t'lah dibakar semua arangmu..
Hingga debu abu terakhirmu..

Semoga Sang Hyang merestui..
Amin..

Saturday, October 9, 2010

Digdaya Berakhir Nyawa

Digdaya
Terbang menjulang..
Terpapa
Terpuruk terhempas..

Melangit
Dia dipuja..
Terpuruk
Tiada berharga..

Duhai jiwa yang fana..
Berlari kejar, entah mengapa..
Duhai Keabadian penggenggam semesta..
Tersenyum Engkau dalam sunyinya..


Melangit
Dia Dipuja..
Terpuruk..
Tiada berharga..
Itulah pertanda fana..
Yang dibela ditetes darah ksatria pelacur entah mengapa..

Duhai Keabadian penggenggam semesta..
Duhai yang dilupa kala jiwa membersit keudara..
Duhai yang dipinta kala oportunisme kami terkulai tanpa daya..
Tersenyum Engkau dalam sunyinya..
Melihat kami mempermainkan diri demi pati..
pati penuntun mati tak berarti..

Monday, September 6, 2010

Teruntuk Ibu Pertiwi..

Ibu..
Maafkan putramu ini..
Terdiam tanpa daya melihatmu direndahkan..
Dilecehkan oleh mereka disana..
Termangu hanya mengelus dada..
Kala putra-putri mu diludahi..
Dipandang sebelah mata..
Karena tingkah berlagak sabar bertopeng diplomasi..
Menutupi kepengecutan pertanda kelemahan jiwa dan diri..

Ibu..
Maafkan putramu ini..
Yang hanya bisa berpuisi..
Melantunkan lagu orkes sakit hati..
Akan apa yang terjadi pada negri..
Dan harga diri..

Ibu..
Yakinkankanlah…
Bahwa masih ada putra-putrimu yang meyakini..
Bahwa tak harus membudak untuk menyambung nafas ini..
Bahwa masih ada putra-putrimu yang meyakini..
Bahwa hidup mulia penuh harga diri adalah lebih mulia..
Dari transaksi kemakmuran yang harus ditukar dengan pelecehan kehormatanmu..

Ibu..
Yakinkanlah..
Bahwa tak semua putra-putrimu bangga..
Mendengungkan sorak sorai kepengecutan..
Dengan mulut berbusa mendengungkan penghambaan pada oportunisme..
Seakan akan kesempatan hanya bisa didapat dari mereka..
mereka yang menari-nari menghina ibunda..
Karena tingkah mengiba tak pada tempatnya..
Mengiba tidak pada Yang Maha Kuasa saja..


Ibu..
Yakinkanlah..
Bahwa masih banyak putra-putrimu…
Yang meyakini bahwa harga diri adalah harga diri..
Nilai hakiki yang harus dipertahankan hingga mati..
Sebagai pembuktian bahwa kami takkan dapat dibeli..
Dan mati lebih dipilih dari pertukaran nilai sejati..
Karena harga diri adalah harga diri..
Dan pelecehan akan ibunda akan kami tebus dengan segala harga..

Ibu..
Yakinkanlah..
Tidak semua putra-putrimu adalah pengecut..
Tidak semua putra-putrimu ridho ibundanya diinjak-injak..
Tidak semua putra-putrimu mau menukar harga diri dengan pundi-pundi..
Tidak semua putra-putrimu menganggap kehormatanmu dapat dikompromi..

Ibu..
Kami cinta dirimu..
Kami yang berada di penjuru bumi takkan pernah lupa asal kami..
Kami putra-putrimu akan selalu menjadi pembelamu..
Yang akan membelamu meskipun kau tua renta dan papa..
Seperti kau kasihi kami sedari kecil kami..
Kami adalah kami, putra-putri ibunda yang takkan pernah lupa ibunda kami..
Ibunda yang kami hormati dan sayangi sepenuh hati..
Tanpa kompromi..

Duhai Mahadiraja alam semesta..
Izinkan kami, menyematkan senyum pada ibunda kami..
Dengan keagunganMu,
Dengan pengasihanMu,
Dengan penyayanganMu,
Dengan kekuatanMu yang bijaksana..
Insyaallah.. suatu saat nanti.. pasti..

Friday, July 23, 2010

Fatimaku

Bagaimanapun suratan Qodo dan Qodar ditetapkan Mahadiraja..
Ayah akan selalu mencintai kamu, Fatimaku..
Sampai kapanpun sebagian jiwa ayah telah terpaut padamu..
Dan getar ini takkan pernah mati hingga ayah mati.. insyaallah..

Semoga Mahadiraja selalu memeluk, menyayang, dan menuntun Fatima hingga akhirnya..
Karena sungguhpun tidak ada pembimbing yang lebih membimbing dari Sang Hyang Agung..
Semoga Fatima menjadi Ibunda yang dicintai keluarga..
menjadi Ibunda dari ksatria ksatria dan ibunda ibunda pembela massanya..


Lindungi dan patuhlah pada bundamu..
Ibunda adalah titisan langit sebelum engkau akhirnya menjadi satu darinya dan mengabdi pada keluargamu kelak..
Tunduk patuhlah pada jalan Tuhan..
Karena sungguhpun hanya Ia yang pantas diabdi..

Ayah selalu bersamamu..
Sayangku..

Monday, July 19, 2010

Sebiduk..

Memang kami sadar..
Samudra ini terlalu digdaya tuk diarungi..
Badai ini terlalu kuat menggeliat..
Melemparkan setiap biduk yang berkeras menavigasikan konsistensi..

Memang kami tau..
Diantara manusia beribu..
Yang diorkestrai musik penyeragam nada merdu..
Sesak tempat bagi musisi perindu improvisasi..

Namun kami mengerti..
Bahwa bisik nurani adalah amanah..
Dari Mahadiraja pada para hamba-hambanya..
Sebagai panji penanda hakiki yang takkan pernah mati..


Meskipun kiranya akan mati..
Setidaknya kami berusaha mati dalam perjuangan..
Karena mati hanyalah soal waktu dan cara..
Semoga Ia meridhoi mati kami dalam pelukan sejati..

Tiada daya dan upaya melainkan dengan perkenan-Mu
Maka mohon kami diridhoi..
Untuk selalu ridho menjadi ponggawamu..

Dalam ketulusan keprajuritan..
Dalam Kemenangan..
Dalam Kekalahan..
Dalam Konsistensi..
Amin..

Tuesday, June 8, 2010

Kekasihku..

Kekasihku..
Terangi selalu pelita hatiku..
Jangan kau biarkan ku tersilau dengan yang bukan kau..
Peluk dan cumbui aku dengan damai nirwanamu..

Kekasihku..
Semakinku mendekatmu, semakin terantusias gejolakku..
Menggebu-gebu ingin lupakan semua fana di genggamanku..
Melaju kencang aliran darahku terpacu terhasrat olehmu..

Kekasihku..
Sungguh indah menujumu..
Waktu berlalu seakan tiada lain harus kutalu..
Ku ingin cepat berada didekap padumu..


Kekasihku..
Sampai kapan kau kan mengujiku..
Ku takut tergelincir karena batas humanisku..
Khawatirku terbelok lengah dikata titik tuju sebahu..

Kekasihku..
Izinkan ku mengabdi padamu..
Menjadi prajuritmu satu..
Sesampai hari abadi hadir, inginku menatap cintamu..
Maharajaku..

Thursday, May 27, 2010

Tak Mengapa..

Penat hariku menumbuk jiwaku..
Penat ragaku merelung arti kalbu..
Penat sukmaku terhanyut membeku..
Penat nuraniku terarang apatismeku..

Apa yang kau cari jiwa yang tak kunjung tenang..
Apa yang kau selami teriakan penggugah kesadaran..
Apa yang kau raih terbuyarnya danau diam menenggelam..
Apa yang kau impikan perkelanaan..


Lilin kecilku..
Kau bilang kau ingin hilang ke gua batu..
Kau kata tak ingin menyemburatmu ke dunia fana..
Kau pastikan ketenangan adalah utamamu..

Namun ia berkata..
Ketenangan hanya ada disurga..
Dunia tempat berkarya dan menyobek murka digdaya..
Tempat habiskan bara yang menyala..
dengan mulia..

Kuatkanlah Maharajaku..
Terangilah jalan setapak tanpa menyala lampu-lampu..
Kumohon iringi setiap desir nafasku..
Hingga ketenangan itu memelukku..
Dengan cinta kembali kerumahMu..

Wednesday, April 21, 2010

Ada Tiada Berada..


Sungguh telah kukubur raga..
Telah kubenamkan jiwa..
Ke ketiadaan akan arti ada..
Ke kegelapan tanpa ingin menyela..
Menyela nafas yang mengingatkan..
Akan adanya tugas yang belum tuntas..
Selain itu tiada..
Tak ada..
Hingga secercah tanpa rencana itu tersingkap..
Hingga ingin kukembali berada..
dan menyala..

Tuesday, April 20, 2010

Kutub Utara (ku)..

di sana kau berdiam..
di sini ku mendendang pelan..
di sana kau terpalu..
di sini ku tersenyum membisu..
di sana kau mengutaramu..
di sini ku menggugahkan kuncianku..
di sana kau..
di sini ku..

utaraku..
tiada lagi waktuku..
untuk bermain dan membunuh sang waktu..
satu nyataku..
untukmu diriku..
setelah Tuhan dan Merah Putihku..


aku..
kutub selatan (mu)..

Friday, April 16, 2010

Sejati..

Duhai Sang Mahadiraja..
Penguasa kalbu nan bernuansa..
Terhanyutku dalam dunia penuh rona..
Rona melantun melupa asa..
Terlupa asa penuh sedia..
Sedia terbang layaknya tiada jatuh disana..


Duhai Sang Mahadiraja..
Pedih luka tawa bahagia lalu termenung berjuta..
Tetes air mata peneguh jiwa..
Dera tanpa henti penangguh sanubari terasa biasa..
Namun hamba hanya manusia..
Kuatkanlah hamba dengan yang sejati..

Karena hanya dengan yang sejati..
Hamba ingin mati..

Friday, April 9, 2010

Untukmu..

Pertama kali..
Tak ada kesan baikku padamu..
Jaket kulit lusuhmu..
Sepatu bootmu..
Dan ribuan puntung rokokmu..
Yang kau anggap lebih penting dari uang makan siangmu..

Bertahun-tahun..
Tiada yang berubah..
Tak ada kesan baikku padamu..
Hidup ala tarzanmu..
Bau tak sedap yang kadang keluar dari mulutmu..
Rumah Kostan kita yang selalu berantakan..
Membuat kita tak pernah berhenti menertawakan diri kita..


Setelah tahun berlalu..
Tetap tiada yang berubah..
Kau adalah manusia terhancur yang penah kukenal luar dalam..
Kau adalah manusia terjujur akan dirimu sendiri..
Tanpa kosmetik.. tanpa basa basi..
Tanpa ramah tamah..
tuk sekedar tunjukan bahwa sesungguhnya kau begitu berbeda..
Kau dan semua keaslian tingkahmu..

Terimakasih tuk ajarkan kemurnian..
Terimakasih tuk buka mataku bahwa kosmetika hanya kosmetika..
Dan topeng adalah topeng..
Dan siapapun takan bertahan lama dalam memerankan kepura-puraannya..
Terimakasih tuk segalanya..
Andai aku bisa jadi manusia sevulgar dikau..
Abang-abangku yang gila.. :p

Wednesday, April 7, 2010

Renungan Indah - WS Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku..

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan..
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?


Ketika diminta kembali...
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian
Kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta
Ingin lebih banyak mobil
Lebih banyak popularitas

Dan kutolak sakit
Kutolak kemiskinan
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku",
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup, dan matiku hanya untuk beribadah.
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.


nb. disadur dari blog ini dan ini

Tuesday, March 23, 2010

Teruntuk Paduka..

Paduka..
Penguasa semua penguasa..
Maharaja semua maharaja..
Izinkan hamba tetap menghamba pada Baginda..
Dan hanya mengabdi untuk Baginda..
Karena sungguhpun lainnya hanyalah fatamorgana..
fatamorgana yang segera lenyap ditelan sang surya..
Izinkan hamba hanya menghamba pada baginda..
Paduka yang mulia..
Baginda semua baginda..

Paduka..
Tuntun penglihatan kami agar selalu jernih merenungi isyarat massa..
Tuntun nafsu kami untuk mengerahkan semua yang kami punya..
Demi perkenan dan hanya untuk perkenan Baginda..
Karena sesuatu yang diselubungi fatamorgana adalah fana..
Dan segala sesuatu yang fana..
Hanya membuat kami jauh dari Paduka..

Paduka..
Raja di Raja alam semesta..
Tiupkan keberanian pada kami untuk menggelegarkan kemurnian..
Hembuskan kepada kami rasa cinta pada sesama..
Jauhkan daripada kami rasa takut mati dan papa..
Jauhkan daripada kami rasa kepengecutan pada kebiadaban..
Karena tak sehelai rambutpun jatuh bila Paduka tiada berkenan..
Karena tak secercah cahayapun terhalang bila Paduka mengizinkan..
Dan itu janji Paduka pada semua yang berkeyakinan..
Dan kegoyahan pada kesetiaan..
Hanya membuat jauh kami dari Paduka..


Paduka..
Ingatkan kami tuk selalu ceria..
Ingatkan kami tuk selalu berbahagia..
Ingatkan kami tuk selalu berterimakasih pada karunia Paduka yang tiada hingga..
Ingatkan kami tuk selalu merasa terhormat..
Telah dipilih untuk hidup..
Telah dibisikkan keresahan-keresahan akan ketidakadilan..
Telah dicurahkan titik-titik kesadaran..
Kesadaran yang tak sama satu sama lainnya..
Agar kami dapat saling mengisi dalam perjuangan..

Paduka..
Jauhkan kami dari keluh kesah..
Jauhkan kami dari tangisan tangisan pelupa..
Jauhkan kami dari sikap berlebihan menghadapi tantangan..
Maafkan kelemahan sanubari kami..
Yang sering tergoyah keyakinannya..
Yang sering kali terbius tuk menuhankan khayalan khayalan..
Yang sering kali menangisi apa yang seharusnya kami syukuri..
Maafkan kelemahan hambamu oh Maha Raja..
Sungguh kepercayaan Paduka untuk menghidupi hamba sebagai ponggawa..
Adalah kemurahan terbesar dari Paduka..

Paduka..
Raja dari segala maharaja..
Izinkan kami menghamba hanya kepadamu..
Hingga akhir hayat kami..
Amin..