Hoahh.. Finally, I've managed to finish Axelrod's classical book, The Evolution of Cooperation. I've borrowed the book from the company's library several months ago. The book is about how cooperation can emerge in the world of self interested agents. Based on 2 series of iterated prisoner dilemma competitions, it is shown that the unsophisticated TIT for TAT strategy is able to defeat its competing strategies, which often utilize more complicated approaches. The tactical characterization of the TIT for TAT simple strategy is then explained, generalized to a broader context (such as the world war 1 and the field of evolutionary biology), and compiled into cooperation strategies advises. For me, the first 3 chapters (out of 9 chapters) are the most interesting ones. The rest is rather lengthy elaboration for the first three chapters' pointers. The lesson offered is definitely an eye opener, the "story telling" style is not for me though. Anyway,the book is a must have for my private library and most importantly I've read it completely yeaa.. :p
Saturday, January 21, 2012
"The Evolution of Cooperation" Review
Hoahh.. Finally, I've managed to finish Axelrod's classical book, The Evolution of Cooperation. I've borrowed the book from the company's library several months ago. The book is about how cooperation can emerge in the world of self interested agents. Based on 2 series of iterated prisoner dilemma competitions, it is shown that the unsophisticated TIT for TAT strategy is able to defeat its competing strategies, which often utilize more complicated approaches. The tactical characterization of the TIT for TAT simple strategy is then explained, generalized to a broader context (such as the world war 1 and the field of evolutionary biology), and compiled into cooperation strategies advises. For me, the first 3 chapters (out of 9 chapters) are the most interesting ones. The rest is rather lengthy elaboration for the first three chapters' pointers. The lesson offered is definitely an eye opener, the "story telling" style is not for me though. Anyway,the book is a must have for my private library and most importantly I've read it completely yeaa.. :p
Wednesday, January 18, 2012
How SOPA/PIPA will harm all internet citizens.
From a mini research I did after work, I think the video from Salman Khan (Khan Academy) is the most comprehensive one. The SOPA/PIPA act will brim snowball effect not only for Americans but also the whole world net citizens. Enjoy this video (I embed the video from Khan Academy's channel in You tube), this sort of information sharing may not be possible anymore if the SOPA/PIPA is legalized ( sigh...:( ).
Sunday, January 15, 2012
Eksperimen Sushi
Suatu hari dalam kisah negri abrakadabra... :p
A: "Kalau kau tak dapat membantu dengan tangan dan kakimu, minimal bantulah dengan doamu.."
B: "Kalau berdoa pun tak bisa?"
A: "Setidaknya janganlah menjadi pengganggu.."
B: "Hmm.. okelah kalu begitu.. (warteg boyz mode hehehe :))"
Interpretasi kisah yang (terlalu) pragmatis..
Waw.. ada yang lagi coba bikin-bikin sushi..
Karena tidak bisa bantu.. setidaknya (sok-sok) bantuin foto, dan berusaha tidak mengganggu..
Walhasil dapet juga cemilan manis.. Hasilnya cukup cihui... :D
Wednesday, December 28, 2011
The Cheapest and the Most Expensive Export Destinations
To get an impression about the cost magnitude in exporting a container to different countries, we can browse the survey site provided by the world bank (this URL). Based on the 2010 data, the 5 cheapest export destination countries are Singapore (450 USD), Malaysia (456 USD), China (500 USD), United Arab Emirates (521 USD), and Finland (540 USD) and the 5 (6 actually) most expensive export destinations are Chad (5902 USD), Central African Republic (5491 USD), Republic of Congo (3818 USD), Iraq (3550 USD), and Afghanistan & Nigeria (3545 USD). In addition, exporting a (20 TEU) container to my homeland (Indonesia) will cost you (approximately) 644 USD, exporting a container to US will cost you 1050 USD, to Holland 895 USD.
![]() |
| taken from openclipart.org |
Mmm.. Oyeah.. to get some practical (in complementary with the academic one :p) knowledge about the exporting formalities and commons, the website from the US http://export.gov/index.asp can be considered as a good starter. Okie.. have fun then.. ;)
Sunday, December 25, 2011
International Trade Incoterms
When one tries to understand the global logistics processes, she has also to be familiar with the ICC (International Chamber of Commerce)'s incoterms condition. For a brief understanding, we can find sufficient information from the wikipedia (the English page is more up to date, but the Dutch page has a nice descriptive picture). "Incoterms (International Commercial terms), a series of three-letter trade terms related to common sales practices, the Incoterms rules are intended primarily to clearly communicate the tasks, costs and risks associated with the transportation and delivery of goods (wikipedia)".
![]() |
| Incoterms (wikipedia.nl) |
Have a nice holiday then.. :)
Thursday, December 22, 2011
Tetralogi Pulau Buru - Pramoedya Ananta Toer
Monday, December 19, 2011
Netlogo - Example Models URLs
Its always good to spend some time observing what people has been doing and the way they have transformed their idea into simulation implementation. Below are some of the websites (not exhaustive) that I refer to in finding Netlogo implementation examples. Maybe, you'll find this list useful also.
Jose Vidal’s Site (He is one of the most active netlogo's
promoter, I find his blog extremely valuable also. )
Netlogo Model from the "Artificial Intelligence"
book written by W. J. Teahan
Netlogo Model from the "Complex Adaptive Systems"
book written by Scott E. Page and John Miller.
The University of Quenslaand
INSISOC (Social Systems Engineering Centre)
David McAvity’s Site
ADA’s Page
DisCSP - DIstributed COnstraint Satisfaction Problems (Many
of the models are Jose Vidal's)
Hopefully I can find more interesting sites. Have fun then
;)
Sunday, December 18, 2011
Detik Detik yang Menentukan (bagi) BJ Habibie
Kali ini saya akan coba berbagi mengenai persepsi yang didapat selepas membaca buku karangan BJ Habibie: "Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi". Sebenarnya buku ini sudah saya miliki sejak empat tahun lalu, namun baru kali ini saya berkesempatan untuk menyelesaikannya. Sebagai artifak (yang mungkin ditujukan sebagai bukti) sejarah, gaya bahasa formil pada buku ini menguji "kesungguhan" (kejenuhan :p) pembaca untuk menyelesaikan isinya.
Sebagai anak emas mantan presiden RI-2 Soeharto yang dipercaya sebagai menteri riset dan teknologi selama dua puluh tahun dan akhirnya sebagai wakil presiden, BJ Habibie pada akhirnya menggantikan gurunya sebagai presiden RI-3. Masa pergolakan negeri tahun 1998 yang ditandai dengan krisis multidimensi, hiperinflasi, anarkisme, dan berbagai ketidakpastian sosial politik dan ekonomi yang memaksa keruntuhan dinasti Soeharto itu harus dijawab dengan berbagai langkah-langkah perbaikan yang kongkrit dan terarah. Dalam buku ini Habibie menerangkan berbagai "artifak-artifak" kebijakan yang ia konkritkan dalam mempersiapkan kehidupan berbangsa yang madani. Dalam buku ini, Habibie mendeskripsikan berbagai pertimbangan dan prosesi pegambilan kebijakan penting yang mengubah kehidupan bangsa Indonesia dari tradisi-tradisi sebelumnya seperti penghapusan hukum subversi, pembebasan tahanan politik, penjaminan kebebasan pers, desakralisasi institusi presiden, penyelesaian masalah Timor Timur, sistem pemilihan umum langsung, otonomi daerah, hingga proses revitalisasi ekonomi pra krisis moneter 1998, (contoh, penyehatan Bank-Bank bermasalah,pendirian Bank Mandiri, independensi Bank Indonesia, dll.).
Sangat menarik untuk membaca tulisan yang langsung ditulis oleh "si" pelaku sejarah langsung. Setidaknya kita mendapatkan gambaran tentang persepsinya tentang kondisi saat itu, jalan fikiran dan metodologi penyelesaian masalah yang ia terapkan, pengaruh-pengaruh pemikiran yang ia percaya dalam memilih kebijakan, dan berbagai dinamika kehidupan (tekanan-tekanan) yang ia alami. Sebuah artifak sejarah yang ditulis langsung oleh pelaku sejarah tentunya sangat berharga. Terlepas dari menarik/tidaknya gaya penulisannya, tentunya artifak langsung mengandung lebih sedikit bias bila dibandingkan dengan cerita dari sudut pandang orang ketiga keempat dan selanjutnya, yang bisa saja menarasikan sesuatu dengan persepsi yang jauh berbeda dari apa yang dimaksudkan si pelakunya.
Dengan membaca buku ini, jelaslah bahwa Habibie-lah arsitek dari semua perangkat pendukung desentralisasi/demokratisasi di Indonesia. Satu hal lain, Dia juga yang bertanggung jawab atas pemulihan perekonomian pasca krisis 98. Dalam buku ini ia juga mendeskripsikan pergolakan perpolitikan yang sedemikian panas dan dinamiknya pada masa itu..
Tanpa menjadi politis, buku ini menyimpan informasi yang sangat penting bagi siapapun yang tertarik mempelajari masa reformasi 98, tuntutan zaman, dan implikasinya dalam bentuk kebijakan yang dikonkritkan Habibie. Terimakasih Pak Habibie atas buku yang telah ditulis.
Saturday, November 26, 2011
Rumah Kaca, Tetralogi Buru, dan Perjuangan Berkelanjutan.
Akhirnya.. selesai juga saya baca rangkaian
Tetralogi Pula Buru karya "Mbah" Pram ini. Berbeda
dengan tiga roman sebelumnya ("Bumi Manusia", "Jejak
Langkah", dan "Anak Semua Bangsa") yang menampilkan Raden Mas
Minke sebagai tokoh utama, "Rumah Kaca" menceritakan kehidupan
Pangemanann seorang intel khusus kolonial Hindia Belanda yang ditugaskan untuk
mengontrol pergerakan-pergerakan yang berpotensi makar. Sebagai pejabat
tinggi yang bertanggung jawab langsung pada gubernur jenderal hindia dan
memiliki akses kepada dokumen-dokumen rahasia, Pangemanann menjadi penasihat
utama gubernur, khususnya dalam menentukan apakah suatu pergerakan dianggap
membahayakan bagi ajegnya kekuasaan kolonialisme. Melalui referensi balik
layar Pangemanannlah akhirnya beberapa organisasi pergerakan di netralisir
dengan dibuang atau dilemahkan, baik dari dalam maupun luar. Raden Mas Minke
dan tokoh-tokoh dari Indische Partij adalah beberapa yang dibuang akibat dari referensi
Pangemanann.
![]() |
| RM Tirtho Adhi Soerjo |
"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah", pesan proklamator kita
Soekarno. Tetralogi Pulau Buru yang mengambil pergerakan Indonesia pada awal
abad 20 sebagai latar belakangnya ini menyadarkan saya akan peran para perintis
dalam penggapaian mahkota kemerdekaan. Dengan mengisahkan kehidupan RM Minke
yang merupakan personifikasi dari tokoh pergerakan pers indonesia pertama Tirtho Adhi Suerjo.
Tetralogi ini telah mengangkat kisah-kisah awal pergerakan intelektualitas republik
ini yang dirintis oleh tokoh intelektual pribumi yang bersekolah kedokteran
di STOVIA.
Kisah mengenai kampanye-kampanye pentingnya berorganisasi yang dirintis
dr. Wahidin
Soedirohoesodo, pembentukan Sarikat Dagang Islam rintisan Minke (Tirtho Adhi Suerjo) dan
Thamrin Mohammad Thabrie (H.
Samanhudi) sebagai kekuatan dagang penyeimbang terhadap dominasi dagang
tionghoa pada kala itu, pembentukan Medan Prijaji sebagai pers yang
menyuarakan ketidakadilan yang diterima masyarakat oleh kolonialisme, pergerakan
pendidikan Boedi Muljo (Boedi
Oetomo) yang diprakarsai dr.
Soetomo, pahlawan wanita dari Jepara (RA Kartini) dan sekolah
keutamaan istri Dewi
Sartika yang dikagumi Minke, pergerakan Sarikat Islam masa Mas
Tjokro (Hadji
Oemar Said Tjokroaminoto), hingga diawalinya pengakuan hak politik
pribumi, melalui masuknya wakil dari Boedi Oetomo dan Sarikat Islam dalam
dewan perwakilan rakyat hindia belanda (Volksraad), merupakan
kisah-kisah sejarah yang urgensinya disuguhkan dengan cara yang unik oleh
tulisan Pram.
Setelah
membaca tetralogi ini, saya mendapat kesadaran akan pentingnya pengaruh dr. Wahidin,
RM Soerjo, H. Samanhudi, Soetomo, Kartini, Dewi Sartika, dan HOS Tjokroaminoto
pada kehidupan pergerakan selanjutnya, termasuk proklamator kita yang pernah
"nge-kost" pada beliau (HOS Tjokroaminoto). Dalam perjalan pergerakan
selanjutnya, HOS Tjokroaminoto adalah kepala dari institusi pergerakan yang
terbesar pada zamannya, dan pengamatan akan pergerakan dan pengalaman HOS
Tjokro secara alami telah menjadi bahan pembelajaran bagi para anak
"kostnya", termasuk Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo.
Secara
subjektif, pelajaran yang bisa saya ambil adalah: tidak semua pejuang menikmati
manisnya kesuksesan, namun perjuangan satu dan perjuangan lainnya adalah mata
rantai berkelanjutan yang (apabila didasari kebenaran) akan mencapai masanya juga. Seperti Minke yang akhirnya mati dan dilupakan massa, Medan
Prijaji dan Syarikat Islam telah menginspirasi dan menjadi titik tolak bagi
perjuangan perjuangan selanjutnya. Permasalahannya bukanlah pada keberhasilan
dalam perjuangan, (karena hal itu Tuhan yang akan menentukan) tetapi pada
keterlibatan kita pada mata rantai kesadaran dan perjuangan, ataukah kita
memilih terlena pada lembamnya apatisme. Semoga Tuhan berkenan untuk
membimbing kita pada jalan yang benar. Amin.
Sebagai
penutup saya kutip sebuah dokumenter mengenai penggalan kehidupan RM Tirtho
Adhi Soerjo:
Friday, November 4, 2011
Ada Alasan..
Ada alasan..
Dibalik silau gemerlapan..
Ada alasan..
Dibalik tanah dimana kilau kan akhirnya tenggelam..
Ada alasan..
Mengapa Sang Kuasa tak datangi hamba-Nya secara nyata..
Ada alasan..
Mengapa hanya Sang Pembawa Pesan yang dijaga dari alpha..
Ada alasan..
Mengapa seorang bandit tidak lebih hina dari yang menyebut dirinya ulama..
Ada alasan..
Mengapa kata para pemuka terasa hampa dibanding jerit lapar nan jujur seorang gembel..
Ada alasan..
Mengapa banyak berlomba berdandan diri dengan topeng kristal kaca..
Ada alasan..
Mengapa yang tak sempat bersolek justru yang akhirnya takkan fana..
Ada alasan..
Yang tak usah kau cari kemana jawabnya..
Ada alasan..
Dimana penelanjangan nurani adalah jawabnya..
Ada alasan..
Dimana semua drama-drama peranan bandit dan pemuka hanya kan buatmu tersenyum..
Ada alasan..
Bila pada akhirnya semua manusia adalah pendrama..
Ada alasan..
Pendrama akan lelah dan membuka diri sebenar-benarnya..
Ada alasan..
Mengapa Maharaja.. menyebut perjalanan terbaik khusus pada akhirnya..
Entah peranannya dulu sebagai pahlawan, buronan, atau figuran..
Yang kan terbuka dan tinggalkan kesan pesan hakiki adalah akhir cerita..
Semoga akhirku, akhirmu..
dan akhir keturunan kita hingga kiamat nanti..
adalah mulia..
Subscribe to:
Posts (Atom)




