Wednesday, February 22, 2017

Ulasan Singkat Business Process Management (BPM)



Business Process Management (BPM) merupakan suatu pendekatan yang melingkupi aktifitas pemetaan, analisis, perbaikan, implementasi, monitoring, dan pengendalian proses bisnis organisasi/ perusahaan yang selaras dengan konsep perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).  Proses bisnis didefinisikan sebagai aktifitas dasar sebagai elemen dari proses produksi produk/ jasa suatu perusahaan secara keseluruhan.  BPM berperan penting dalam penataan aliran proses kerja, kualitas sumber daya manusia, kerangka organisasi kerja, arsitektur informasi dan komunikasi, teknologi, dan aspek penunjang lainnya secara serasi.  BPM bertujuan untuk meningkatkan efisiensi rangkaian proses-proses bisnis perusahaan dari hulu (para supplier) hingga hilir (pelanggan).


Melalui implementasi BPM, suatu perusahaan dapat mengelola proses-proses bisnisnya secara lebih transparan dan terkendali.  Melalui peningkatan transparansi dan kendali proses bisnis inilah proses perbaikan proses bisnis yang berimbas pada peningkatan efisiensi kerja organisasi dapat diwujudkan.  Dengan peningkatan efisiensi proses bisnis diharapkan kualitas produk/jasa yang dihasilkan dan daya saing perusahaan dapat ditingkatkan.


Sebagaimana digambarkan pada gambar 1, Kerangka kerja BPM terdiri dari lima tahapan inti yaitu: (1) identifikasi proses, (2) analisa proses, (3) perancangan perbaikan proses, (4) implementasi rancangan perbaikan proses, dan (5) monitoring dan pengendalian proses.


Gambar 1. Kerangka Kerja Business Process Management (BPM).

Kerangka kerja BPM diawali dengan tahap identifikasi dan pemetaan proses bisnis yang tengah berlangsung. Pemetaan proses bisnis berdasakan standard BPM umumnya dijabarkan melalui standard notasi BPMN (Business Process Model and Notation).  Dengan acuan peta proses eksisting, analisa untuk mengidentifikasi berbagai inefisiensi dan peluang perbaikan dari proses yang tengah berjalan dapat dilakukan.  Hasil analisa akan menjadi dasar dalam merancang perbaikan aliran proses kerja yang kemudian akan diimplementasikan di lapangan.  Untuk implementasi awal, implementasi skala kecil baiknya dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan terhentinya operasi perusahaan secara total.  Eksekusi dari implementasi perbaikan aliran proses kerja akan dimonitor, dievaluasi, dan dikendalikan sesuai dengan ukuran performa dan kelayakan proses yang telah disetujui sebelumnya (ongkos, waktu produksi, qualitas produk/layanan, dll).  Hasil monitoring, evaluasi, dan pengendalian ini akan menjadi bahan masukan bagi siklus perbaikan BPM selanjutnya.


Ukuran perusahaan biasanya sebanding dengan kompleksitas rangkaian proses bisnis yang terjadi didalamnya.  Dengan peningkatan kompleksitas rangkaian proses bisnis, potensi peningkatan efisiensipun umumnya akan meningkat.  Dalam kondisi ini, implementasi siklus perbaikan berkesinambungan melalui kerangka kerja BPM secara manual akan menjadi tidak efisien.  Kebutuhan akan penggunaan perangkat lunak (software) BPM/ Enterprise BPM suites akan meningkat.  BPM suite yang lengkap akan menyediakan 5 fungsionalitas berikut: (1) process discovery and project scoping; (2) process modeling and design; (3) business rules engine; (4) workflow engine; dan (5) simulation and testing.  Implementasi BPM suite yang sukses dapat memfasilitasi keinginan perusahaan untuk memperpendek berbagai siklus perbaikan proses bisnis sehingga implementasi transformasi perbaikan perusahaan dapat dilakukan dalam waktu dan resiko yang jauh lebih kecil.  Terdapat sejumlah BPM suites berbayar dan open-source yang tersedia di pasaran seperti dari Appian, Aris/ Software AGIBM, PegaSystems, Tibco, dll.  Meskipun demikian harga enterprise BPM suite berbayar sangatlah tinggi (mencapai kisaran USD 500.000 tergantung dari vendor dan penawaran paketnya).  Oleh karenanya, studi awal terkait pertimbangan ongkos, cakupan penggunaan, dan keuntungan dari penggunaan BPM suite harus terdefinisi dengan jelas dan ditimbang dengan sebaik mungkin.  Bila studi awal tidak dilakukan, resiko pemborosan akibat tidak terpakainya investasi BPM ini sangat mungkin terjadi.  


Referensi
Dumas, M. et al., 2013. Fundamentals of Business Process Management, Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg.
van der Aalst, W.M.P., ter Hofstede, A.H.M. & Weske, M., 2003. Business Process Management: A Survey. In Springer Berlin Heidelberg, pp. 1–12.


Semoga Berguna,

Saturday, December 31, 2016

Predictive Analytics in Supporting Logistics Operation Decision Making


Alhamdulillah. 


Please Enjoy, our Decision Support Systems article (co-authored with Dr. Andries Stam (Almende BV) and Prof. Eric van Heck (Rotterdam School of Management, Erasmus University).


The article's title is "The seaport service rate prediction system: Using drayage truck trajectory data to predict seaport service rates". It gives a concrete example on the use of predictive analytics using large volume GPS data (big data) to support logistics operational decision making (in the context of containers pick up and delivery operations at seaports. Click the following URL or feel free to contact me at meditya.wasesa (at) gmail.com for the full article: http://dx.doi.org/10.1016/j.dss.2016.11.008



Cite the article as follows:
M. Wasesa, et al., The seaport service rate prediction system: Using drayage truck trajectory data to predict seaport service rates, Decision Support Systems (2016), http://dx.doi.org/10.1016/j.dss.2016.11.008  

Thursday, March 17, 2016

Thursday, October 15, 2015

Artikel di Buku Diaspora Ikatan Alumni ITB :)



Alhamdulillah...

Sangat bersyukur bisa ikut berkontribusi di buku hasil "gotong-royong" para alumni kampus yang berada di luar negeri (ketika itu).. 

Artikelku di buku "Menghimpun yang Terserak untuk Indonesia Lebih Baik"

Detail artikelnya ditulis sbb, dibaca ya ;)

M. Wasesa, Mengenal Institusi Pasar Elektronik Sebagai Pilar Perdagangan Modern yang Harus Dipersiapkan Indonesia, in: C. His (Ed.), Menghimpun Yang Terserak Untuk Indonesia Lebih Baik, Ikatan Alumni ITB, 2015: pp. 267–280. ISBN: 978-602-97290-1-6

Thursday, October 8, 2015

Mengenal Konsep Daya Saing Bangsa versi Porter



Pendahuluan

Agenda peningkatan daya saing bangsa, adalah sebuah topik pembangunan yang sering didengungkan pemerintah.  Ramainya penggunaan terminologi ini dalam berbagai diskusi konteks kenegaraan, menunjukan animo tinggi berbagai elemen bangsa pada isu daya saing bangsa ini.  Popularitas terminology “daya saing” kiranya tidak bisa dilepaskan dari peran organisasi the World Economic Forum (WEF) yang dengan rutin mempublikasikan dokumen “The Global Competitiveness Report (GCR)” yang melakukan perbandingan peringkat daya saing/ competitiveness negara-negara di dunia.  Berdasarkan publikasi terakhir (The Global Competitiveness Report 2015-2016 red.) Indonesia menempati peringkat ke-37 dari total 144 negara).  Pada tulisan singkat ini akan dibahas konsep daya saing berdasarkan lensa teoretis yang disarikan dari salah satu konsepsi akademis yang menjadi cikal bakal teroperasionalisasinya evaluasi daya saing global yang diselenggarakan oleh WEF.

Pengembangan publikasi pengukuran daya saing yang diselenggarakan oleh WEF, kiranya tidak bisa dilepaskan dari jasa tokoh Michael E Porter, seorang akademisi strategi bisnis ternama yang sekaligus menjadi pendiri dan Institute for Strategy and Competitiveness, Universitas Harvard Amerika Serikat.  Melalui bukunya yang berjudul “The Competitive Advantage of Nations” (1990) (Porter, 1990), Porter melakukan kajian mendalam terkait dengan konsepsi daya saing bangsa.  Konsepsi daya saing bangsa ia terjemahkan sebagai kemampuan untuk melakukan memaksimalkan pemberdayaan berbagai potensi dimilikinya (sumber daya manusia, keuangan, alam, dst) dalam rangka meraih tingkat produktivitas yang setinggi-tingginya.  Menurutnya tingkat produktivitas-lah yang sejatinya memegang peranan penting dalam meningkatkan standar kehidupan masyarakat. 

Yang perlu diperhatikan dari konsepsi Porter ini adalah kerangka berfikir yang digunakan dalam mendefinisikan konsepsi daya saing negara tersebut. Menurutnya, institusi usahalah yang sejatinya berperan penting dalam proses pembangunan kesejahteraan.  Oleh karenanya negara-negara didunia berada dalam suatu kompetisi untuk menciptakan lingkungan bisnis yang sekondusif mungkin bagi kalangan usaha di dunia.  Sejalan dengan pemahaman tadi, maka pembangunan ekonomi ia definisikan sebagai proses perbaikan berkelanjutan dimana keberhasilannya akan ditentukan oleh kemampuan negara untuk menciptakan lingkungan bisnis yang semakin baik guna terciptanya ekosistem usaha yang semakin kompetitif yang akan menstimulasi kemajuan unit-unit usaha yang beroperasi di ekosistem usaha yang dinaungi negara tsb.


Model Belah Ketupat Daya Saing ala Porter

Melalui proposisi model “belah ketupat”, Porter menegaskan bahwa lingkungan bisnis yang kompetitif adalah resultan proses interaksi dari empat faktor yang menjadi elemen pembangun kawasan usaha terkait.  Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1, keempat faktor tersebut dijabarkan sebagai berikut: (1) faktor inheren dari lokasi bisnis terkait, (2) kekuatan dan konektivitas jaringan unit-unit usaha yang beroperasi di lokasi bisnis terkait, (3) kondisi dan norma pasar yang berlaku, dan (4) kondisi lingkungan bisnis terkait yang akan menentukan level kompetisi dan ruang gerak alternatif strategi bisnis yang dapat diambil dunia usaha.  Mendiskusikan faktor pertama (1), faktor inheren melingkupi berbagai hal penting terkait dengan kualitas sumber daya manusia, ketersediaan dan aksesibilitas pemodalan yang dapat digunakan, kondisi infrastruktur fisik, infrastruktur telekomunikasi dan informasi, infrastruktur riset dan teknologi, dan soliditas proses administrasif yang dapat diukur melalui kemudahan dan transparasi penyelesaian urusan kepemerintahan (perizinan, pajak, dll).  Pada faktor kedua (2), ekosistem bisnis yang baik perlu dibangun agar dapat menjadi tempat beroperasi, berkompetisi, dan berkolaborasinya jaringan unit-unit usaha yang saling melengkapi sehingga terciptalah suatu bangunan ekonomi kawasan yang didukung interaksi usaha yang efektif dan efisien diantara uni-unit usaha dalam lokasi bisnis ybs.  

Pada faktor ketiga (3), kondisi dan norma pasar yang menjadi standard barang/jasa yang layak dikonsumsi konsumen akan mempengaruhi tingginya standard manufaktur/ penciptaan nilai (value-creation) yang harus diikuti oleh unit-unit usaha yang berada pada negara tersebut.  Faktor ketiga ini meliputi berbagai aspek seperti standard kualitas produk, standard keselamatan dan keramahan lingkungan yang harus dipenuhi dalam berproduksi, hukum perlindungan konsumen, dll.  Tingginya tatanan norma pasar yang dianut konsumen dalam pasar akan menentukan tingginya standard operasi produksi dari kawasan industri yang akan memasok barang/jasa untuk pasar ybs.  Faktor keempat (4) dibentuk oleh berbagai peraturan dan insentif yang membentuk konteks lingkungan kehidupan berusaha (misal: upah minimum regional, insentif penanaman modal, kemudahan perizinan, hukum persaingan usaha, perlindungan hak cipta, dll.) yang akan mempengaruhi tingkat kompetisi dan ruang gerak alternatif strategi bisnis yang dapat diaplikasikan perusahaan-perusahaan yang berada di negara tersebut.


Gambar 1. Model Belah Ketupat Daya Saing ala Porter (diadaptasi dari www.isc.hbs.edu)


Bangunan Pembentuk Daya Saing ala Porter

Untuk dapat melakukan pembangunan dan perbaikan daya saing secara sistematis, perlu dipahami kerangka untuk menganalisa bangunan daya saing itu sendiri.  Elemen-elemen pembangunnya perlu dipahami dengan baik, sehingga dapat didefinisikan arah dari proses pembangunan lingkungan perekonomian yang dapat menstimulasi inovasi, efisiensi dan kesejahteraan yang didasarkan atas pemahaman daya saing yang menyeluruh. 

Sebagaimana direpresentasikan pada gambar 2, bangunan daya saing dibangun atas tiga tingkatan.  Pada tingkat dasar, pembangunan daya saing bangsa harus berfondasikan pada faktor inheren yang menjadi kekuatan dan karakteristik khas dari suatu lokasi.  Baik potensi sumber daya alam, lokasi geografis, besar populasi, kondisi budaya, dan lainnya adalah warisan inheren awal yang perlu diberdayakan keunggulannya.  Meski begitu, perlu dipahami bahwa kesejahteraan sejati suatu bangsa tidak bisa  hanya bergantung pada warisan inheren yang terdapat pada negara itu, kesejahteraan sejati sangatlah bergantung pada produktifitas suatu bangsa dalam mengolah potensi yang ada secara maksimal.


Gambar 2. Bangunan Pembentuk Daya Saing ala Porter (diadaptasi dari www.isc.hbs.edu)

Tingkatan daya saing kedua dibangun oleh elemen dari daya saing makroekonomi.  Pembangunan sumber daya manusia dan kerangka kelembagaan politik dan kepemerintahan adalah pilar pertama yang menopang daya saing makroekonomi.  Pilar pembangunan sumber daya manusia ini terdiri dari tiga elemen yaitu (1) elemen pembangunan manusia (pendidikan dasar, kesehatan, persamaan kesempatan, dll.), (2) elemen kepastian hukum (hukum perlindungan hak cipta, hak asasi, dan persamaan di hadapan hukum, dll.), dan (3) elemen kelembagaan politik (kestabilan politik, transparansi kebijakan public, dll.)  Pilar kedua dari daya saing makroekonomi ditopang oleh soliditas kebijakan fiskal dan moneter.  Pilar ini melingkupi elemen kebijakan fiskal yang berperan pada efektifitas penyelarasan pendapatan dan pengeluaran negara, dan baiknya kebijakan moneter yang ditandai dengan rendahnya tingkat inflasi, dan tingkat kestabilan ekonomi.

Daya saing mikroekonomi ditempatkan Porter pada sebagai atap (menempati tingkatan puncak) dari bangunan daya saing bangsa secara keseluruhan.  Daya saing mikroekonomi ini ditopang oleh tiga pilar penting: (1) pilar kualitas lingkungan bisnis (2) pilar kondisi bangunan kawasan ekonomi (industri), dan (3) pilar tingkat kompleksitas operasi dan strategi dari unit-unit usaha yang berpartisipasi dalam ekosistem usaha suatu negara.  Pilar kualitas lingkungan bisnis ditentukan oleh atmosfer produktivitas, inovasi, dan pertumbuhan unit-unit usaha.  Kuatnya pilar kondisi bangunan kawasan ekonomi ditentukan oleh kualitas interaksi antar komponen pembentuk lingkungan bisnis ybs (lihat kembali model “Belah Ketupat”/ Gambar 1).  Keberadaan kawasan ekonomi yang mengkonsentrasikan beragam unit usaha dengan arah industri yang sejalan sangatlah penting bagi proses stimulasi transformasi bisnis dan peningkatan produktivitas kawasan tersebut.  Pada pilar terakhir, tentunya kemampuan unit-unit usaha dari segi keahlian, kapasitas produksi, dan manajemen yang baik, menjadi modal fundamental bagi terbentuknya daya saing mikro ekonomi secara keseluruhan.  Tanpa didukung oleh keberadaan unit-unit usaha yang kompetitif dan memiliki kompleksitas operasi dan strategi yang tinggi, maka kemungkinan terbinanya tingkat daya saing mikroekonomi yang kuat baik pada level unit usaha maupun pada level agregat akan menjadi kecil.


Penutup

Konsep daya saing bangsa yang dibahas disini (versi Michael E Porter), bukanlah satu-satunya konsep daya saing yang popular.  Sementara konsep Porter banyak mengadopsi sudut pandang daya saing dari kacamata investor dan kaum pengusaha, terdapat pula sistem daya saing lain yang lebih memberi penekanan pada sudut pandang lain, seperti penekanan pada aspek pembangunan negara yang penciptaan nilai yang berkelanjutan (Bris & Caballero, 2014), penekanan pada pengembangan kompetensi dan ilmu pengetahuan suatu negara, dll (Barney, 1991; Huseini, 1999).   Oleh karenanya, meskipun konsepsi Porter mengandung banyak perspektif berguna bagi pendefinisian dan prioritisasi arah pembangunan, pengadopsian dan pengembangan konsep daya saing bangsa hendaknya disesuaikan dengan kondisi dan nilai luhur yang dijunjung tinggi negara ybs.  Begitu pula dengan Indonesia, perlu disintesis, dikembangkan, dieksekusi, dan dievaluasi metrik daya saing yang relevan dengan kondisi dan penekanan nilai bangsa kita (Pancasila, dan UUD ’45) namun juga relevan bagi peningkatan daya-tarik negara pada strata perekonomian global.


Referensi

Barney, J. (1991). Firm Resources and Sustained Competitive Advantage. Journal of Management, 17(1), 99–120.
Bris, A., & Caballero, J. (2014). Revisiting the Fundamentals of Competitiveness: a Proposal. IMD World Competitiveness Yearbook, 1(1), 492–503.
Huseini, M. (1999). Mencermati Misteri Globalisasi: Menata Ulang Strategi Pemasaran Internasional Indonesia Melalui Pendekatan Resource-Based. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Porter, M. E. (1990). The Competitive Advantage of Nations. Harvard Business Review, 68, 73–93.

Saturday, May 24, 2014

Juggling Five (Life) Balls in the Air - Brian Dyson



“Imagine life as a game in which you are juggling some five balls in the air.  

You name them - work, family, health, friends, and spirit... 
.. and you're keeping all of these in the air.  

You will soon understand that work is a rubber ball.  
If you drop it, it will bounce back.  

But the other four balls - family, health, friends and spirit - are made of glass.  
If you drop one of these, they will be irrevocably scuffed, marked, nicked, damaged or even shattered.  

They will never be the same.  

You must understand that and strive for balance in your life.” 



- Brian Dyson, former CEO of Coca Cola-


- the mask of happiness & the mask of sadness -

Thursday, May 8, 2014

Technology Leads to Structured Procrastination - Dan Ariely



Dan Ariely has made an interesting assertion about procrastination, "Technology makes things (i.e. procrastination) worst by creating a new term called structured procrastination.  What is structured procrastination?  It is our ability to do nothing while feeling that we’re doing something"

Friday, May 2, 2014

Photo Blog: Yey the Spring is Coming..

- the flowers are welcoming the spring -



- the ducks family are quacking enjoying the sunshine -

Sunday, April 6, 2014

Maand van de Filosofie in de Rotterdamse Bibliotheek




Hi There...


Visiting the Rotterdam public library at Blaak has never failed to amuse our family.  Beside the 2nd "kids" floor which we visit often, many times the library held free exhibitions for the visitors.  This April they had an exhibition entitled "de Tentoonstelling Denkeeiland" which presented the artworks of Eveline van Duyl.  Using waste materials, she constructed a number of sculptures portraying famous European philosophers.  Hereunder, I present a collage of some photographs.  Can you figure out some of their names?



The Great European Philosophers


Find out the answer here.  Have a nice weekend then :)



Friday, February 7, 2014

Aku Merindukanmu, Oh Muhammadku - Puisi Gus Mus



karya: KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Aku merindukanmu, Oh Muhammadku...

Sepanjang jalan kulihat wajah-wajah yang kalah

menatap mataku yang tak berdaya.
Sementara tangan-tangan perkasa

terus mempermainkan kelemahan.
Airmataku pun mengalir mengikuti panjang jalan,
mencari-cari tangan lembut-wibawamu.

Dari dada-dada tipis papan
terus kudengar suara serutan,
derita mengiris berkepanjangan,
dan kepongahan tingkah-meningkah.
Telingaku pun kutelengkan

berharap sesekali mendengar 
merdu-menghibur suaramu.

Aku merindukanmu, Oh Muhammadku...

Ribuan tangan gurita keserakahan.
Menjulur-julur kesana kemari.
Mencari mangsa memakan korban.
Melilit bumi meretas harapan.
Aku pun dengan sisa-sisa suaraku.
Mencoba memanggil-manggilmu.

Oh Muhammadku...  Oh Muhammadku...


Dimana-mana sesama saudara
saling cakar berebut benar,
sambil terus berbuat kesalahan.
Qur'an dan sabdamu hanyalah kendaraan
masing-masing mereka yang berkepentingan.
Aku pun meninggalkan mereka,
mencoba mencarimu dalam sepi rinduku.

Aku merindukanmu, Oh Muhammadku...

Sekian banyak Abu jahal Abu Lahab,
menitis ke sekian banyak umatmu

Oh Muhammadku, shalawat dan salam bagimu.

Bagaimana melawan gelombang kebodohan

dan kecongkaan yang telah tergayakan.
Bagaimana memerangi umat sendiri? 

Oh Muhammadku...

Aku merindukanmu, Oh Muhammadku...

Aku sungguh merindukanmu...


Sunday, January 12, 2014

"Gus Ja'far" - Cerpen (Panjang) Gus Mus

karya: KH Mustofa Bisri (Gus Mus)



Diantara putera-putera Kyai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqien" dan sesepuh di daerah kami, Gus Ja’far-lah yang paling menarik perhatian masyarakat.  Mungkin Gus Ja’far tidak sealim dan sepandai saudara saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah.  Malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kyai Saleh.  Kata Kang Solihin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kyai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.  "Kata kyai, Gus Ja’far itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solihin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kyai Saleh itu.  “Saya sendiri tak paham, apa maksudnya, kok anaknya (dibilang) lebih tua dari beliau itu.”

"Tapi, Gus Ja’far memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian Shubuh Kyai Saleh.  "Matanya itu lho.  Sekilas saja beliau melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi.  Kalian ingat nggak, Sumini anaknya penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu.  Sebelum dilamar orang seberang, kan ketemu Gus Ja’far.  Waktu itu Gus Ja’far bilang,  'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?!'.  Tak lama kemudian orang seberang itu datang melamar Sumini."

"Kang Kandar-kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet, "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Ja’far bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?!'  Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."  "Ya, waktu itu saya pikir Gus Ja’far hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."

"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara, "waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Ja’far bilang kepada saya, 'Wah saku sampeyan kok mondol-mondol, dapat proyek besar ya?!'  Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps-kempesnya.  Dan percaya atau tidak, esok harinya, saya memenangkan tender yang diselenggarakan pemda tingkat propinsi."  "Apa yang begitu itu yang disebut ilmu kasyaf ya?"  tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan. "Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil, "makanya saya justru takut ketemu Gus Ja’far.  Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."***



Maka ketika kemudian sikap Gus Ja’far berubah, masyarakat pun geger;  terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solihin, yang selama ini merasa dekat dengan beliau.  Mula-mula Gus Ja’far menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa.  Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda.  Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan.  Ringkas kata dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.

"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan, "wah, sayang sekali!  Apa gerangan yang terjadi pada beliau ya?"  "Kemana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun, "kalau saja kita tahu kemana beliau, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."  "Tapi bagaimana pun, ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil, "paling tidak kini, kita bisa setiap saat menemui Gus Ja’far tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu.  Maka jika kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini, hingga sikapnya berubah dan ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."

Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jumat sehabis wiridan shalat Isya, dimana Gus Ja’far prei, tidak mengajar, rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya.  Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Ja’far, jauh melebihi yang sudah-sudah.  Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was, dan takut dibaca tanda-tandanya.

Setelah ngobrol kesana-kemari akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan, "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus.  Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."  "Perubahan apa?" tanya Gus Ja’far sambil tersenyum penuh arti, "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja.  Saya kok merasa tidak berubah."  "Dulu sampeyankan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca bahkan diminta pun tak mau."

"O, itu," kata Gus Ja’far seperti benar-benar baru tahu.  Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya.  Diam agak lama, baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan: "Ceritanya panjang."  Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.

"Kalian ingat nggak, ketika saya lama menghilang?" akhirnya Gus Ja’far bertanya, membuat kami yakin dia benar-benar siap untuk bercerita.  Maka serempak kami mengangguk.  "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km ke arah selatan.  Namanya Kyai Tawakkal.  Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kyai-kyai tertentu yang tahu tentang kyai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kyai di daerah masing-masing."

"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada wali Tawakkal itu.  Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau.  Ternyata ketika sampai disana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kyai Tawakkal.  Baru setelah seharian melacak kesana-kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk, 'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu,' katanya, 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil, terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu.  Nah kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana.  Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan.  Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kyai siapa tadi?' 'Kyai Tawakkal.' 'Ya, kyai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'

Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu.  Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kyai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua.  Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka.  Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kyai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua.  Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri.  Kedua matanya indah memancarkan kearifan.  Bicaranya jelas dan teratur.  Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."

Tiba-tiba Gus Ja’far berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan terganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang, ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar berbunyi 'Ahli neraka'.  Astaghfirullah!
Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gamblang.  Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat.  Pasti saya keliru.  Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kyai yang lain, disurat sebagai ahli neraka.  Tak mungkin.  Saya mencoba meyakin- yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa.  Tanda itu terus melekat di kening beliau.  Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu.  Gila!"

"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjilan ini.  Beberapa hari saya amati perilaku Kyai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal yang mencurigakan.  Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kyai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir, dan sebagainya, mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya.  Kalau pun beliau keluar biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau-dan ini sangat jarang sekali mengisi pengajian umum.  Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kyai Tawakkal sejak muda.  Semacam lelana brata kata mereka."



"Baru setelah beberapa minggu tinggal di pesantren, saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kyai Tawakkal keluar.  Saya pikir inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya.  "Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat kyai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya.  Dengan hati-hati, saya pun membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, kyai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap.  Akan kemana beliau gerangan?  Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba kyai menoleh ke belakang."

 "Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi.  Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung.  Terdengar gelak tawa ramai sekali.  Dengan bengong, saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu.  Dua orang wanita-yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua dengan dandanan yang menor, sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit kesana-kemari.  Tidak mungkin kyai mampir ke warung ini, pikir saya; ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.

'Mas Ja’far!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya.  Masya Allah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya.  Memang betul, mata saya melihat Kyai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung.  Ah.  Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kyai saya yang duduk santai di pojok.  Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti.  Kyai Tawakkal menyuruh orang di sampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit'.  Lalu, kepada orang- orang yang ada di warung, kyai memperkenalkan saya.  Katanya: 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh.  Cari pengalaman katanya.'  Mereka yang duduknya dekat, serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh, melambaikan tangan."

"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar kyai menawari, 'Minum kopi ya?'  Saya mengangguk asal mengangguk.  'Kopi satu lagi, yu!' kata kyai kemudian kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya.  'Silakan!  Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggaan warung ini!'  Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."  "Kyai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'nya dan membiarkan saya bengong sendiri.  Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kyai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kyai lain, bisa berada di sini.  Akrab dengan orang- orang beginian; bercanda dengan wanita warung.  Ah, inikah yang disebut lelana brata?  Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya?  Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini.  O, pantas di keningnya kulihat tanda itu.  Tiba-tiba sikap pandangan saya terhadap beliau berubah.

'Mas, sudah larut malam," tiba-tiba suara Kyai Tawakkal membuyarkan lamunan saya, 'kita pulang, yuk!'  Dan tanpa menunggu jawaban saya, kyai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar.  Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebun sengon, Kyai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui, 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."  "Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai.  Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan.  Kyai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja.  Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung.  Beliau melambai, 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar.  Sampai di seberang, ternyata Kyai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu.  'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian, 'kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'  Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kyai berkata mengejutkan, 'Bagaimana?  Kau sudah menemukan apa yang kau cari?  Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kau baca di kening saya?  Mengapa kau seperti masih terkejut?  Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda, menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?'  Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan-pertanyaan beliau yang menelanjangi itu.  Saya tidak bisa berkata apa-apa.  



Beliau yang kemudian terus berbicara. 'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda 'Ahli neraka' di kening saya.  Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka.  Karena pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan surga, aku adalah milik Allah.  Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia mau memasukkan diriku ke surga atau ke neraka.  Untuk memasukkan hambaNya ke surga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan.  Sebagai kyai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke surga kelak?  Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung tadi yang kau pandang sebelah mata itu, pasti masuk neraka?  Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita dari-Nya.  Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya.  Bukankah begitu?'  

Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kyai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya, 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah.  Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan.  Seperti mereka yang di warung tadi, kebanyakan mereka orang susah.  Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur, ujub, atau sikap- sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri.  Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan, godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat.  Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak.'  Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.  'Ayo, kita pulang!' tiba-tiba kyai bangkit, 'Sebentar lagi subuh.  Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.'  Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kyai luar biasa ini."

"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan.  Kyai Tawakkal sudah tak tampak lagi.  Dengan bingung saya terus berjalan.  Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu kami.  Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kyai Tawakkal.  Tapi, jangankan Kyai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada.  Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal.  Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya, 'Apakah sampeyan Ja’far?' tanyanya.  Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri.  'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.' 'Beliau dimana?' tanya saya buru-buru.  'Mana saya tahu?' jawabnya, 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya.  Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan kemana beliau pergi.'  Begitulah ceritanya... dan Kyai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil merubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."

Gus Ja’far sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi mendengarkan, masih diam tercenung, sampai Gus Ja’far kembali menawarkan suguhannya, "monggo-monggo didahar".

***

Pengutip tidak memiliki karya diatas.  Cerpen ini dikutip dan di-edit dari mailing-list Muslim-KL dan dicek ulang keselarasan tulisannya dengan ceramah Gus Mus dalam acara peringatan tahun baru islam 1428 H di Pekalongan yang bisa disimak ulang melalui URL ini.